Selasa, 22 Januari 2013

Menjadi Konsumen Yang Cerdas.

Apakah anda seorang konsumen? Jika ia, artinya anda menjadi bagian dari setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Ketika konsumen mendapat masalah mengenai jasa atau barang yang diterima, apa yang seharusnya dilakukan?

Di Indonesia konsumen dilindungi oleh undang-undang perlindungan Konsumen yaitu UNDANG –UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999. Tertulis di dalamnya mengenai segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Undang-undang ini juga menerangkan mengenai hak dan kewajiban Pelaku usaha, yang dapat dijadikan acuan nanti nya sebagai bahan pertimbangan jika terjadi masalah dengan konsumen. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersamasama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.

Apabila terjadi kasus kerugian, konsumen dapat menyampaikan nya kepada pelaku usaha apabila masalah tersebut dapat diselesaikan secara damai. Melalui LPKSM (Lembaga Perlindungan  Konsumen Swadaya Masyarakat) apabila anda membutuhkan mediasi dan advokasi untuk mendapatkan ganti rugi atas penggunaan barang dan jasa yang tidak sesuai dengan persyaratan.  Apabila masalah yang anda hadapi adalah perkara konsumen dan ingin penyelesaian di luar pengadilan melalui Konsiliasi, mediasi dan arbitrasi, anda dapat menghubungi BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen). Pemerintah juga dapat membantu melalui Dinas Indag serta unit atau instansi pemerintah terkait. Terakhir adalah melalui pengadilan apabila masalah tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan.                 
Untuk masyarakat Provinsi bali, Dilansir dari berita instansi Dinas Perindustrian dan Perdagangan kota Denpasar, pada tanggal 17 Maret 2011 telah dilantik anggota BPSK kota Denpasar, sebagai Badan yang bertanggung jawab menyelesaikan sengketa konsumen di luar pengadilan. Terdiri dari 3 unsur yaitu pemerintah, konsumen dan pelaku usaha, Badan ini diharapkan dapat memediasi setiap sengketa yang muncul antara konsumen dan pelaku usaha dengan sebaik-baiknya. Penyelesaian sengketa melalui BPSK tidak dipungut biaya dan waktu penyelesaian sengketa selambat-lambatnya 21 hari kerja sudah dikeluarkan keputusan. Contoh sengketa yang sudah pernah dimediasi BPSK adalah sengketa peralatan elektronik dan pembelian emas,
               
Sebagai konsumen kita harus teliti dalam memperhatikan barang atau jasa yang ditawarkan, sehingga dapat dihindari sengketa antara konsumen dan pelaku usaha nantinya. Memperhatikan label dan masa kadaluwarsa pada barang yang memiliki hal tersebut, serta dalam beberapa jenis produk, pastikan produk  tersebut bertanda jaminan mutu SNI.(eko)

Pertanyakan Kuliah Semester 8 dan Masalah PKL, Mahasiswa Semester 8 FPAS Hearing dengan WD III.

Puluhan mahasiswa semester 8 dari Fakultas Pendidikan Agama & Seni (FPAS) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) kemarin (22/01/2013) pagi melakukan diskusi dan hearing dengan Wakil Dekan III FPAS di halaman depan Gedung FPAS. Aksi ini dilakukan menyusul simpang siur informasi mengenai kuliah semester 8 dan juga mempertanyakan kejelasan informasi mengenai kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

Dalam hearing tersebut, para mahasiswa ini mempertanyakan beberapa hal, antara lain yakni mengenai kejelasan kuliah semester 8, juga kejelasan mengenai pelaksanaan PKL. Informasi yang beredar, mahasiswa semester 8 masih mendapatkan 1 mata kuliah kepemangkuan. Hal ini dipertanyakan mahasiswa, mengapa tidak digabung ketika semester 7 yang lalu. Padahal semester 7 yang lalu hanya mendapatakan 4 mata kuliah saja.

Mata kuliah yang didapat pada semester 7 antara lain pengelolaan kelas, perencanaan pembelajaran, pengajaran remidi dan sosiologi agama. Idealnya mata kuliah pengelolaan kelas, perencanaan pembelajaran, pengajaran remidi  diberikan sebelum melakukan praktek mengajar. Jadi mahasiswa bisa mempraktekan apa yang mereka dapat di bangku kuliah saat praktek mengajar di sekolah, bukan baru diberikan pada semster 7 sedangkan mahasiswa sudah praktek mengajar pada semester sebelumnya. Hal ini mennimbulkan tanda tanya di kalangan mahasiswa.

Selain itu mahasiswa juga mempertanyakan kejelasan kegiatan PKL yang akan diadakan fakultas. Para mahasiswa banyak yang kurang setuju dengan kegiatan PKL yang rencananya akan diadakan di luar Bali ini. Alasannyapun beragam, mulai dari urgensi pelaksanaannya, mahasiswa sudah melakukan praktek mengajar ke sekolah juga melakukan Kuliah Kejra Nyata (KKN) selama 52 hari. Lalu sekarang lagi melaksanakan kegiatan PKL. Pemilihan tempat PKL yang jauh dan masalah biaya yang harus dikeluarkan juga banyak dikeluhkan. 

Masalah waktu juga menjadi alasan atau factor utama mahasiswa menolak kegiatan PKL ini dilakukan di luar Bali. Hal ini sebagian besar diutarakan oleh mahasiswa kelas sore yang sebagian besar bekerja. Ketika mahasiswa yang bekerja mengikuti kegiatan PKL secara otomatis berarti mahasiswa tersebut harus meninggalkan pekerjaannya. Hal ini sangat ditentukan oleh tempat kerja masing-masing, apakah memberikan ijin atau tidak. Padahal kita ketahui bersama bahwa mahasiswa yang bekerja mengumpulkan uang membantu orang tua untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Pada kesempatan tersebut Drs. I Made Nada Atmaja, M.Si selaku Wakil Dekan III bidang kemahasiswaan FPAS ini menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa prihal kejelasan kuliah semester 8 dan kegiatan PKL. “Untuk masalah kuliah semester 8 tidak ada lagi kuliah teori, hanya tinggal PKL, sedangkan untuk masalah pembayaran biaya kuliah lainnya itu bukan kapasitas saya menjawab, silahkan langsung tanyakan langsung kepada Wakil Dekan (WD) II bidang keuangan” ujarnya 

Dosen yang akrab dipanggil Pak Nada ini menambahkan untuk masalah PKL itu sudah ada di kurikulum jadi wajib dilaksanakan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar S1. Awalnya sesuai rencana kegiatan PKL akan dilaksanakan pada akhir januari atau awal februari, tapi karena melihat reaksi mahasiswa tentang rencana PKL ini, selain itu karena cuaca yang kurang bersahabat sementara waktu pelaksanaan PKL diundur kira-kira sampai bulan maret atau april.

Di akhir acara hearing tersebut mahasiswa menyampaikan aspirasinya agar pihak fakultas mengkaji ulang rencana kegiatan PKL ke luar Bali, mahasiswa juga mendesak agar kegiatan PKL dilaksanakan di Bali saja. Hal ini akan lebih efektif dan efisien, baik dari segi waktu juga biaya.. WD III FPAS berjanji akan menyampaikan aspirasi mahasiswa tersebut kepada pihak fakultas, untuk kemudian membahasnya bersama segenap jajaran fakultas. (Gun)

Selasa, 15 Januari 2013

Hari Raya Pagerwesi


Hari Raya Pagerwesi ini jatuh tiap 6 bulan ( 210 hari ) pada Rabu Kliwon Shita, Pagerwesi juga termasuk rerainan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun rohaniawan. Hari Pagerwesi yaitu hari yang di khususkan untuk memagari jiwa dalam peyucian diri untuk dapat menerima kemuliaan dan berkah dari Sanghyang Pramesti Guru . (Tuhan Yang Maha Pencipta).

Pagerwesi mempunyai arti Pagar dari Besi. Ini melambangkan Segala sesuatu yang dipagari akan terlihat kokoh dan kuat atau dalam pengertian lain, sesuatu yang bernilai tinggi jangan sampai mendapat gangguan apa lagi dirusak. Bagi umat Hindu Hari Raya Pagerwesi dalam bahasa Bali-nya disebut magehang awak, Sanghyang Pramesti Guru dengan nama lain Dewa Siwa adalah manifestasi Tuhan yang di percaya menjadi gurunya manusia dan alam semesta ini juga yakini dapat menghapus segala hal hal yang buruk dalam diri manusia.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan, 

Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. 

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sebagai berikut :
Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara Pagerwesi sesungguhnya dititik beratnya kepada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Karena mereka yang lebih mengerti dan memahami tentang keberadaan Sang Hyang Pramesti Guru beserta para dewa lainnya, lalu kemudian disebar luaskan dan diajarkan kepada masyarakat dan umat Hindu Khususnya.

Pelaksaan Hari Raya Pagerwesi ini diadakan saat tengah malam dengan upacara dan persembahan yang ditujukan untuk Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta adalah 5 unsur terbentuknya manusia yang terdiri tanah, air, api, angin, ruang/tempat. Setelah upacara panca maha bhuta selesai dilaksanakan lalu di lakukan Yoga-Samadhi yang bertujuan untuk menentramkan hati dan pikiran agar dapat menahan gejolak dan hasrat yang tidak baik. Selain itu juga pada saat Hari Haya Pagerwesi dianjurkan berpuasa selama 1 hari ( 24 jam ). Konon pada jam 3:30 Sang Hyang Pramesti Guru disertai para Dewa dan Pitara, turun memberikan berkah pencerahaan kepada umat nya yang benar benar menjalankan.

Makna filosofinya adalah hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, dengan adanya guru kita bisa mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, tanpa guru kita bisa kehilangan arah dari tujuan semula sehingga tindakan bisa jadi salah arah . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia dan di alam lain nanti. Pengetahuan akan lebih bermakna dan berarti bila ada Guru yang membimbing, mengajarakan dan mengayomi.

Perayaan Hari Raya Pagerwesi ini adalah rentetan dari hari raya yang ada di Bali, dan bagi anda yang ingin melihat dan menyaksikan upacara adat pada hari raya Pagerwesi ini ada baiknya menyatu atau bersosialisasi dan terjun langsung kemasyarakat, disitu anda akan merasakan suasana dan keberadaannya juga unikan dari upacara tersebut.

Dari semua tulisan diatas disimpulkan bila Kehidupan kita tidak dipagari dan dibentengi dengan kebaikan ,pengetahuan yang cukup dan bimbingan rohani yang benar juga iman yang kuat, maka moral manusia akan rusak. Dengan Yoga-Samadhi kita memusatkan pikiran kita untuk menghadap sang Pencipta sebagai ungkapan terimakasih dengan apa yang telah diberikannya, Kunci dari itu semua kita perlu adanya Guru yang dapat membimbing kita agar dapat menuju ke arah yang lebih baik dan benar, sedang kan Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita agar selalu menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, bersyukur, berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai Guru sejati yang memberikan pengetahuan, kesejahteraan dan kemakmuran yang juga menciptakan alam beserta isinya.

sumber : http://wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/hari-raya-pagerwesi

Kamis, 10 Januari 2013

Makna Perayaan Hari Raya Siwa Ratri

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bah-wa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitabkitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkanl seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:

”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.

”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*

Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:

“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.

Purana
Sivaratri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:

Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para rsi, menguraikan pentingnya upacara Sivaratri. Seseorang bernama Rurudruha seperti telah disinggung di atas.

Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa denganWasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka. 



sumber : http://www.mediahindu.net/berita-dan-artikel/artikel-umum/72-makna-perayaan-hari-raya-siwaratri.html

Senin, 07 Januari 2013

UAS hari pertama terganggu hujan


Hari pertama Ujian Akhir Semester (UAS) di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar berjalan cukup baik, Namun sedikit terganggu oleh cuaca yang tidak mendukung, yakni hujan deras yang mengguyur Denpasar sejak sore hingga malam hari. Banyak mahasiswa yang terlambat dating ke kampus untuk mengikuti UAS, hal ini dikarenakan dalam cuaca hujan mereka harus memperlambat laju kendaraan di jalan yang licin, bahkan ada yang basah kuyup karena tidak membawa mantel.

Bukan itu saja, beberapa mahasiswa juga ada yang tidak menggunakan pakaian ujian sesuai dengan peraturan (atasan putih, bawahan hitam). Hal ini dikarenakan mayoritas mahasiswa kelas sore bekerja, mereka memilih untuk langsung menuju ke kampus daripada pulang terlebih dulu, terlebih lagi hujan yang sangat deras. Seperti pengakuan Eka, mahasiswa semester I FE ini “Saya langsung dari tempat kerja berangkat ke kampus, males pulang apalagi hujan, jadi bolak-balik” ungkapnya ketika ditemui saat berteduh di Pos Satpam UNHI.

Sementara pelaksanaan UAS di kelas masing-masing berjalan cukup baik, hanya saja kenyamanan mahasiswa sedikit terganggu karena beberapa pakaian mahasiswa yang basah, selain itu karena banyak mantel (jas hujan) yang berjejer di sudut-sudut ruangan. Namun itu semua tidak berpengaruh banyak terhadap konsentrasi mahasiswa dalam mengerjakan soal,terbukti dengan proses menjawab soal selesai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. (Gun)

Jumat, 04 Januari 2013

Jogja sungguh Istimewa (Catatan Perjalanan)

Mukernas PPMI ke IX berakhir, untuk sementara kebersamaan semua anggota PPMI berakhir. Ada yang langsung pulang, ada yang jalan-jalan, ada juga yang masih menetap beberapa hari lagi di Surabaya. Saya sendiri berniat akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Bersama teman-teman PPMI DK Banjarmasin dan PPMI DK Yogyakarta saya diantar sebuah mobil avanza silver dan sebuah angkot jurusan terminal. Pukul 17.00 kami sudah meninggalkan kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya untuk segera menuju terminal Bungur Asih.

Untuk menuju Yogyakarta sebenarnya ada banyak pilihan transportasi yang bisa ditempuh. Pertama adalah dengan menggunakan kereta api dari stasiun KA di Wonokromo. Kedua dengan menggunakan Bus dari terminal Bungur Asih, dan yang ketiga yakni lewat jalur udara atau menggunakan pesawat. Kami memilih pilihan kedua yakni menggunakan Bus karena harganya relatif terjangkau sesuai dengan kantong mahasiswa. Harga tiket bus dari Surabaya-Yogyakarta waktu itu Rp. 35.000. Perjalanan ditempuh selama 8 jam dan hanya saya habiskan untuk berbincang dan tidur selama perjalanan. Pukul 01.30 keesokan harinya kami sudah tiba di terminal Jogja. Malam itu kami beristirahat di sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Poros Universitas Ahmad Dahlan (UAD), sementara kawan-kawan yang wanita menginap di kos-kosan teman yang lain.

Matahari bersinar dengan cerah di langit kota Jogja pagi itu, 24 september 2012. setelah mandi dan bersiap-siap sepiring gado-gado dan es jeruk manis menjadi menu sarapan pagi itu. Cukup lama menunggu kawan-kawan PPMI DK Banjarmasin yang lain, akhirnya mereka datang kira-kira pukul 11.00. Kami berangkat 7 orang, ditemani 2 tour guide ”dadakan” yakni kawan Randi dan Rohmadi. Banyak hal yang ingin kami lakukan di Jogjakarta seharian ini, kami ingin memanjakan diri dengan mengunjungi Candi Prambanan, berjalan-jalan di Malioboro, Alun-alun Jogja, juga menikmati suasana Angkringan. Hal ini karena saya dan beberapa teman yang lain memang baru pertama kali ke Jogjakarta. Acara jalan-jalan keliling Jogja kami mulai dengan mengunjungi Candi Prambanan.

Perjalanan kami tempuh kurang lebih 30 menit dari kampus UAD menuju Candi Prambanan. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp. 30.000 dan diberikan kain untuk digunakan selama berkeliling candi, kami semua masuk ke areal Candi. Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang ini adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia

Saya sangat takjub melihat pemandangan yang ada di depan mata, jejeran candi beserta reruntuhannya sungguh mengesankan. Hal ini tidak kami sia-siakan untuk mengabadikan diri disana, terlebih saya yang baru pertama kali ke Jogjakarta. Cukup lama kami habiskan waktu menikmati indahnya Candi Prambanan, hingga akhirnya kami beralih ke museum yang berada disebelah areal candi. Sempat berbelanja pernak-pernik untuk oleh-oleh sebentar, kemudian beristirahat sejenak di areal parkir sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya (Malioboro).

Jalan Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta. Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Di Malioboro hal yang paling pertama kami lakukan adalah mencicipi kuliner khas Jogja, apalagi kalau bukan Gudeg. Gudeg  (dalam bahasa Jawa gudheg) adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek. Ada berbagai varian gudeg, antara lain Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang, Gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer, Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih. Untuk masalah harga tidak usah khawatir, satu porsi gudeg ditambah es teh manis hanya Rp. 8.000 saja, murah bukan.

Setelah memuaskan lidah dengan cita rasa gudeg, kami melanjutkan acara jalan-jalan dengan jalan-jalan di Malioboro. Karena jalan Malioboro begitu luas dan panjang, kami berpencar untuk membeli oleh-oleh khas jogja yang ditawarkan di sepanjang jalan. Kebetulan saat itu kondisi keuangan sedang tidak sehat, tapi hasrat belanja saya kurang bersahabat. Tapi ternyata tidak seperti apa yang saya bayangkan, barang-barang yang ditawarkan disini harganya cukup terjangkau, dan jangan lupa keahlian menawar sangat dibutuhkan disini

Setelah lama berkeliling, akhirnya saya menemukan pedagang yang “pas” dengan saya, pas dengan kantong saya begitu juga pas dengan ukuran badan saya. Memang sedikit sulit mencari size (ukuran) pakaian untuk saya yang meiliki badan ala bule ini. Dua buah kaos dengan gambar Pelengkung Gading dan Sepeda onthel menjadi pilihan saya, ditambah dua kaos bertuliskan Jogja untuk oleh-oleh ibu dan adik di Bali. Harga untuk size big alias jumbo 50.000/pcs, sedangkan yang biasa 30.000-35.000/pcs,  tapi setelah dibantu tawar menawar dengan bahasa jawa oleh kawan Randi akhirnya dua kaos size jumbo itu saya bayar dengan harga 75.000, sedangkan untuk dua kaos Jogjanya saya bayar 50.000. Lumayan murah dibandingkan dengan harga barang di tempat asal saya Bali.

Tanpa terasa hari mulai gelap, hiruk pikuk di Malioboro membuat saya dan teman-teman lupa waktu. Namun bukannya sepi, Malioboro malah tambah ramai di malam hari, sungguh mengesankan. Belum puas mengunjungi Candi Prambanan dan jalan-jalan di malioboro, kami bergegas menuju Alun-alun Jogjakarta. Alun-Alun Kidul merupakan wilayah di belakang kompleks bangunan Kraton Yogyakarta yang bisa dijangkau dengan berjalan ke arah selatan dari Sentra Makanan Khas Gudeg Wijilan. Disimbolkan dengan gajah yang memiliki watak tenang, Alun-Alun Kidul merupakan penyeimbang Alun-Alun Utara yang memiliki watak ribut. Karenanya, Alun-Alun Kidul dianggap tempat palereman (istirahat) para Dewa. Dan jelas kini sudah menjadi tempat ngleremke ati (menenangkan hati) bagi banyak orang.

Di Alun-alun ini kami mencoba atraksi yang dinamai Masangin, yaitu melewati jalan antara dua beringin yang ada di tengah alun-alun dengan mata ditutup kain hitam. Konon, jika orang mampu melewatinya dan tak serong atau menabrak maka permintaannya akan terkabul dan ia akan mendapat berkah tak terhingga. Tapi, jangan mencoba untuk mengintip, sebab jika dilakukan anda akan masuk ke dunia lain. Anda akan mendapati alun-alun dalam keadaan sepi dan sulit untuk kembali ke alam nyata lagi.Untuk mencobanya, anda cukup menyewa kain hitam seharga Rp 3.000,00. Kebetulan saat itu kami membawa kain hitam, jadi tidak perlu menyewa , bisa berhemat.

Satu persatu kami mencoba Masangin, alih-alih bisa melewati jalan diantara dua beringin, berjalan lurus saja tidak bisa. Sebagian dari kami ada yang berbelok arah, ada yang serong, bahkan saya menabrak orang yang juga melakukan Masangin ini. Dua percobaan saya gagal, akhirnya pada percobaan ketiga saya bisa melewatinya. Semoga memang benar apa yang dikatakan orang-orang, jika bisa melewatinya akan mendapatkan berkah. Astungkara.

Setelah semua mencoba Masangin, kami mencoba menaiki suatu mode transportasi yang di sewakan berupa sepeda atau becak yang sudah di modifikasi sedemikian rupa untuk bisa dinaiki 4-6 orang.Lebih menarik lagi alat tarnsportasi ini seluruh bodynya di hiasi dengan lampu selang beraneka ragam. Mungkin tujuannya untuk semakin menarik para pengunjung. Alat transportasi  ini di pakai untuk mengelilingi alun-alun selatan. Kami membayar 50.000 untuk tiga kali putaran. Cukup murah untuk berlima atau berenam.

Dengan sisa energi yang tersisa, berpacu dengan malam yang semakin larut dan dipenuhi bintang-bintang. Kami ingin kembali memuaskan lidah kita dengan kuliner khas jogja lainnya. Malam itu kami berkumpul di angkringan di depan kantor media cetak Kedaulatan Rakyat (KR) ditemani Sekjen PPMI DK Jogjakarta Agus ”Jarwo” Susanto bersama kawan-kawan PPMI DK Jogjakarta lainnya.

Di angkringan kita bisa bebas memilih tempat duduk di tempat yang disediakan. Jika ingin berbincang dengan pedagang, anda bisa duduk di dekat bakul atau anglo. Selain dapat bercerita dengan pedagang, juga akan mempermudah jika ingin tambah makanan dan minuman. Tetapi bila ingin lebih berakraban dengan teman, kita bisa duduk di tikar yang digelar memanjang di trotoar seberang jalan. Tak perlu khawatir tidak cukup, sebab panjang trotoar yang digelari tikar hampir 100 meter.

Disana kami menikmati hidangan malam khas Jogjakarta, nasi kucing. Nasi kucing (atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan "segå kucing") bukanlah suatu menu tertentu tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada warung angkringan. Dinamakan "nasi kucing" karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Nasi kucing adalah sebentuk nasi rames, dengan menu bermacam-macam: tempe kering, teri goreng, sambal goreng, babat, bandeng, usus, kepala atau cakar ayam serta sate telur puyuh. Harga satu bungkus nasi kucing sangat murah yakni Rp. 1.500, hal ini yang membuat nasi kucing sangat populer di kalangan mahasiswa

Ada satu lagi yang unik, kopi joss. Kopi Joss adalah kopi tubruk panas yang diberi arang membara. Begitu dimasukin arang maka kopi akan mengeluarkan suara josss yang kencang sehingga terciptalah nama kopi Joss itu. Minuman ini bisa ditemukan di semua angkringan-angkringan sudut kota Jogja. Malam itu saya habiskan malam dengan penuh suka cita bersama kawan-kawan, ditemani alunan gitar dan suara merdu dari musisi jalanan yang beraksi. Tempat wisata, adat budaya dan masyarakat Jogja sungguh istimewa, suatu saat nanti, saya (pasti) akan kembali kesini. (Gun)

Kamis, 03 Januari 2013

Denpasar Festival ke-V Berlangsung Meriah dan Semarak

Di penghujung tahun 2012 yang lalu, kawasan Patung Catur Muka (titik nol kilometer Kota Denpasar) kembali menjadi pusat ajang tahunan Denpasar Festival ke-V yang diadakan mulai dari tanggal 28-31 Desember 2012 dengan mengambil tema "Kreta Angga Wihita" atau “Kotaku, Rumahku”. Denpasar Festival (Denfest) adalah ajang penampilan kebudayaan dan kreativitas masyarakat Kota Denpasar Dengan mengadakan festival setahun sekali di jalanan, Pemkot Denpasar ingin mengajak masyarakat Kota Denpasar untuk berinteraksi dalam menampilkan hasil-hasil kreasi terbaik mereka.

Tahun ini Denfest sangat menarik minat kalangan masyarakat, masyarakat yang datang bukan hanya berasal dari masyarakat local, melainkan juga bersaal dari wisatawan domestic maupun mancanegara. Dari ribuan pengunjung yang hadir sebagian besar masih didominasi oleh kalangan anak muda yang ingin menghabiskan atau menikmati suasana akhir tahun di tengah kota Denpasar. Banyak budaya lokal kota Denpasar yang dapat dinikmati, seperti pameran endek yang merupakan produk unggulan lokal kota Denpasar, makanan, kerajinan tangan, kreasi anak muda, dan lain-lain.

Denfest tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya bertempat di seputaran Catur Muka, dan dibagi menjadi beberapa titik diantaranya di depan Pura Jagadnata diisi stand pasar tradisional dan tanaman hias( holtikultura), di Jalan Kaliasem diisi stand Job Fair, di Jalan Gajahmada diisi stand kuliner, di jalan Veteran diisi dengan beranekaragam hasil kerajinan (Handicraft), kain, kebaya, serta pakaian adat lainnya. Lobi kantor Walikotapun tak ketinggalan dirubah menjadi tempat pameran foto. Beragamnya hiburan yang ditampilkan mulai dari fashion show, pentas kesenian dan kebudayaan, musik menambah semaraknya gelaran Denfest ini.

Di stand pasar tradisional yang ada di depan Pura Jagadnata, disana menyediakan stand makanan dan minuman tradisional, tas maupun sandal dari batik atau anyaman bambu, perhiasan perak yang berasal dari sukawati, buku-buku agama hindu, pernak-pernik khas Bali seperti kalung, gelang, cincin, kain kebaya, produk tekstil tenun endek tradisional, keramik yang dibentuk cangkir, mug, vas bunga. Selain itu di area ini ada pameran tanaman hias, dan orchid (anggrek), bahkan salah satu stand menyediakan tanaman obat herbal.
 
Pada gelaran Denfest V ini diadakan Job Fair dari tanggal 29-30 Desember 2012 yang bertempat di Jalan Kaliasem, Job Fair ini berguna bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Kota Denpasar. Sedangkan di Jalan Veteran dipamerkan beraneka jenis kreasi kriya wastra yang bertempat disekitaran jalan veteran menjual busana endek songket, tas, ataupun sandal dari bahan endek ataupun songket.

Bukan itu saja, untuk pecinta fotography juga disediakan pameran foto yang mengambil tempat di lobi Kantor Walikota Denpasar. Pameran foto ini berisi lukisan-lukisan dari beberapa seniman kita di Bali, selain itu pada pameran foto tersebut mengambil beberapa tema diantaranya kebudayaan, kehidupan, dan lain-lain. Pameran ini juga menjadi salah satu daya tarik pada gelaran Denfest V tahun ini. Ini juga merupakan sebuah ajang untuk mewadahi kreatifitas masyarakat khususnya yang mempunyai minat dan bakat di dunia fotography untuk menyalurkan kreatifitasnya.


Arena Denfest yang begitu luas, mulai dari pasar tradisional, Job Fair, Pameran Foto tentunya cukup menguras energi untuk berkeliling. Tapi tenang saja untuk mengganti energi setelah berkeliling disediakan stand kuliner mulai dari pintu keluar Kantor walikota sampai lampu merah di Jalan Gajahmada, stand kuliner yang pastinya akan memanjakan lidah kita dengan cita rasa masing-masing. Saking banyaknya terkadang sampai bingung untuk memilihnya, di stand kuliner ini memang sengaja menyediakan makanan dan minuman tradisional khas Bali. Mulai dari Ayam betutu, tipat cantok, serombotan, jaje Bali semuanya tersedia disini. Ada juga kuliner inovasi baru hasil kreatifitas masyarakat seperti bakso lele, bakso vegetarian juga ada disini.Untuk masalah harga tidak usah khawatir, semua makanan dan minuman yang tersedia harganya cukup terjangkau sesuai dengan kantong masyarakat, terlebih lagi kalangan  anak muda yang merupakan sebagian besar pengunjung Denfest ini.
  
Terlepas dari penyelenggaraannya yang meriah dan semarak perlu juga dilakukan evaluasi atau pembenahan untuk perbaikan kedepannya. Hal yang paling menjadi sorotan yakni masalah kemacetan lalu lintas. Dari tahun ke tahun masalah ini masih terus mencari jalan keluarnya, walaupun sudah diantisipasi dengan pengalihan arus tapi tetap saja ada beberapa kendaraan yang bandel tetap melanggar pengalihan arus. Selain itu masalah penataan parker juga perlu diperhatikan, seperti di pinggir lapangan I Gusti Ngurah Made Agung berjubel motor diparkir disana. Hal ini sangat menganggu lalu lintas kendaraan dari arah Jalan Udayana menuju Jalan Surapati, terlebih lagi lalu lalang masyarakat pengunjung Denfest yang menyeberang jalan. Satu lagi hal yang perlu diperhatikan adalah masalah antisipasi hujan, agar stand yang disediakan memang cukup berkualitas untuk menahan air hujan sehingga tidak menggangu kenyamanan pengunjung.

Gelaran Denfest yang memasuki usia kelima ini bisa dibilang sukses, hal ini dibuktikan dengan jumlah pengunjung yang dari tahun ke tahun semakin meningkat, walau beberapa kali sempat turun hujan namun hal itu tidak mengurungkan niat masyarakat untuk berkunjung. Tema yang diambil dalam gelaran Denfest V ini "Kreta Angga Wihita" atau “Kotaku, Rumahku” juga cukup bagus. Hal ini bertujuan untuk menyadarkan kita bahwa Kota kita adalah rumah kita, terlepas dari heterogenitas atau kemajemukan suku, agama, dan ras masyarakat serta budaya yang ada di Kota Denpasar diharapkan kedepannya tetap bisa berinteraksi dan bersinergi sehingga terwujud harmonisasi sesuai dengan visi Kota Denpasar yakni Menjadi Kota yang Berwawasan Budaya. (Era/Sri/Gun)


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting