Jumat, 06 Desember 2013


TRANSPARANSI BUDAYA


            Seiring perkembangan arus globalisasi dan tidak ada pemisah yang nyata antara budaya bangsa yang satu dengan yang lainnya semakin membuat budaya lokal kita menjadi “pincang”. Bagaimana tidak, dulu beda antara budaya timur dan barat terpampang nyata. Namun kini dinding pembatas itu semakin rapuh bahkan jebol membuat mereka saling tarik menarik. Yang kalah hanyalah menjadi pengikut trend budaya pemenang arus global. Itulah yang juga terjadi terhadap budaya lokal Indonesia, termasuk budaya bali. Kini hanyalah percikan pemikiran kecil dari para penggerak yang mampu membangkitkan semangat rasa peduli untuk tetap mempertahankan budaya lokal seperti yang dilakukan oleh Nyoman Gunarsa.
Upaya yang dilakukan Maestro Seni Nyoman Gunarsa yang menggagas dan melaksanakan Festival Internasional Bahasa Bali atau International Festival of Balinese Language (IFBL) di Museum Gunarsa Semarapura, Kabupaten Klungkung diselenggarakan dari tanggal 08 - 30 November 2013 dikemas dalam bentuk parade seni dengan melibatkan ratusan seniman lokal dan mancanegara.
Upaya melestarikan bahasa daerah dan sastra sangatlah penting, mengingat pada masa kini batas pemisah antara Negara dan manusia semakin kabur dan selanjutnya terjadilah proses interaksi, adaptasi, adopsi bahkan kolabrasi berbagai unsure budaya. Hal itu diperparah lagi dalam kondisi komunikasi keseharian baik di rumah maupun luar rumah semakin enggan menggunakan bahasa Bali. Bahkan  ada ungkapan generasi muda bahwa berbahasa Bali adalah hal kuno. Dalam suatu dilematis tersebut, upaya pemberdayaan bahasa dan sastra Bali dilihat sebagai sebuah kegiatan strategis, agar budaya local dapat mengaktualisasikan diri dalam konteks global, dan dipihak lain menghindarkan berbagai pengaruh homogenisasi budaya.
Kegiatan yang berlangsung hampir sebulan itu juga melibatkan peserta dari Sembilan Negara yang meliputi Australia, Belanda, Italia, Switzerland, Perancis, Amerika Serikat, Jepang dan India serta Indonesia yang sekaligus menjadi tuan rumah. Kegiatan tersebut diawali dengan pawai sastra budaya, pembacaan puisi/prosa berbahasa daerah Bali, bercerita menggunakan Bahasa Daerah Bali, menyanyi lagu berbahasa Bali, pementasan drama berbahasa Bali serta pameran buku langka Bali dan prasilontas.
Gunarsa berharap peserta dari mancanegara mampu memperkaya khasanah Bahasa Bali sehingga tidak tercabut dari akarnya, sekaligus memberikan masukan dalam memuliakan, mengembangkan dan melestarikan bahasa Bali. Selain itu mampu menyebarluaskan kepada dunia internasional tentang hakekat bahasa Bali dan sastra di dalam dunia pendidikan untuk membentuk karakter bangsa, sekaligus memperkaya khasanah budaya dunia.
Gunarsa menambahkan, pihaknya menggelar kegiatan IFBL mengingat pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak lagi mencantumkan Bahasa Daerah Bali dalam kurikulum mata pelajaran pokok khususnya di Bali sebagai bahasa ibu. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyukseskan kegiatan bertaraf internasional itu, termasuk pembentukan panitia dan panitia pengarah dengan pelindung Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Budaya luar boleh saja membaur dengan budaya lokal, namun jangan sampai mendepak budaya dan kearifan lokal. Karena jika itu sampai terjadi sama saja kita telah kehilangan jati diri.


 Salam PERSMA
(Devi & Virgo)

Senin, 02 Desember 2013

LKMM-TD 2013: Manfaat di Tengah Keterbatasan




 Pada hari Jumat (29/11/13), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar mengadakan kegiatan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) dalam rangka program kerja (PROKER) BEM periode 2013/2014. Kegiatan yang diadakan selama 3 hari 2 malam ini diselenggarakan di Asrham Gandhi Puri Klungkung. Acara ini dibuka oleh Bapak Drs. Ida Bagus Suatama M.Si selaku perwakilan Rektor yang pada kesempatan tersebut berhalangan untuk hadir.

Kegiatan dengan tema “Bangkitkan Potensi Kepemimpinan dalam Diri untuk Melahirkan Pemimpin Muda yang Berkualitas” ini diikuti oleh 54 orang peserta dari 68 orang yang mendaftar. Ni Wayan Evayani selaku ketua panitia dalam acara ini menyatakan bahwa walaupun belum mencapai target yang diharapkan yaitu 100 orang peserta, namun ia cukup puas karena ada peningkatan jumlah peserta dari tahun lalu yang hanya diikuti oleh 30 orang peserta saja.

“Memang rencana awal kami menargetkan peserta yang ikut sebanyak 100 orang namun tidak tercapainya target tersebut dapat kami jadikan evaluasi untuk kegiatan tahun depan. Kami akan mencari tahu apa saja yang kurang dan perlu diperbaiki sehingga tahun depan acara ini bisa berjalan dengan lebih baik lagi,” tuturnya.

Pada acara ini dihadirkan beberapa pembicara untuk mengisi materi bagi para peserta, di antaranya yaitu I K. Satria S.Ag yang membawakan tentang Metode dan Tehnik Diskusi, Ni Putu Era Sukmayanti yang membawakan tentang Dasar-Dasar Kepemimpinan, Ni Putu Hery Susanti yang membawakan tentang Tehnik Penyusunan Proposal dan Surat, I Gusti Ngurah Made Wira Dharma Putra dan I Putu Agus Saskara yang membawakan tentang Manajemen Aksi dan Propaganda, Drs. I GM Jaya Serataberana M.Si yang membawakan tentang Manajemen Konflik, serta Pande Nyoman Taman Bali yang membawakan tentang Sejarah Pergerakan dan Dinamika Mahasiswa.

Selain kegiatan diskusi, pada acara LKMM-TD ini juga diisi dengan kegiatan Yoga Namaskara, test, kuis, debat kelompok, malam keakraban, tracking, outbond, dan lain-lainnya. Acara LKMM-TD ini bertujuan untuk membentuk dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dalam menyongsong perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat serta melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang berdedikasi dan berkepribadian dalam menyiapkan pengurus-pengurus organisasi kemahasiswaan (ORKEMAS).

“Mahasiswa sebagai agen of change merupakan calon pemimpin yang diharapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik untuk bangsa, perubahan zaman harus diikuti oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Sekarang ini mahasiswa cenderung kurang begitu menyadari peran mereka sebagai mahasiswa. Hal ini disebabkan kebanyakan dari mereka berorientasi terhadap kewajiban utama yaitu kuliah tanpa memperdulikan peran lainnya yang sebenarnya tidak kalah pentingnya yaitu berorganisasi,” jelas perempuan kelahiran Tabanan ini. 

“Oleh karena itu, pengkaderan pada orkemas khususnya di UNHI Denpasar sangat diperlukan untuk memperbaiki pergerakan sebuah organisasi di lingkungan UNHI Denpasar. Maka berkaitan dengan hal tersebut maka BEM UNHI melaksanakan acara ini, yang di dalam kegiatannya peserta akan dilatih di bidang keorganisasian dan kemasyarakatan. Dengan adanya acara LKMM-TD ini diharapkan akan melahirkan mahasiswa atau calon pemimpin yang berkualitas, seorang pemimpin yang bisa menjadi agen perubahan bagi bangsa,” tambah mahasiswi fakultas ekonomi ini.

peserta laki-laki mandi di sungai
Acara LKMM-TD ini diselenggarakan di Asrham Gandhi Puri dengan pertimbangan bahwa tempat ini memiliki suasana yang tenang, asri dan memiliki aura positif yang cocok untuk melakukan pelatihan seperti kegiatan LKMM-TD. Namun, sayangnya para peserta harus gigit jari ketika melakukan acara LKMM-TD ini dengan segala keterbatasan seperti air yang tidak cukup bagi seluruh peserta dan panitia. Sampai-sampai peserta dan panitia laki-laki harus mengalah untuk mandi di sungai dekat Asrham.

“Pihak panitia memang sudah tahu bahwa di tempat tersebut sedang krisis air, namun kami sudah mengupayakan untuk membeli air sebagai solusinya. Tetapi pada saat acara berlangsung, terjadi keterlambatan pasokan air dari pihak PDAM yang tentu saja tidak kami harapkan,” konfirmasi mahasiswi program studi (prodi) akuntansi ini.

Banyak Keluhan

Banyak keluhan dari peserta LKMM-TD yang merasa kurang nyaman melakukan kegiatan di Asrham Gandhi ini. Mulai dari bus yang sempat salah jalan ketika menuju ke lokasi tersebut. Evayani mengkonfirmasi kembali hal ini terjadi karena sopir bus awalnya sudah mengatakan bahwa ia tahu jalan menuju ke lokasi namun ternyata itu jalan menuju ke Asrham yang lainnya. Sedangkan panitia yang ada di bus kebetulan kurang paham akan jalan menuju ke Asrham Gandhi.

 Peserta laki-laki juga merasa mendapat perlakuan yang berbeda karena kamar untuk laki-laki kurang memadai dibandingkan dengan kamar untuk perempuan. Kamar untuk laki-laki dijadikan tempat berlangsungnya acara dan malamnya dijadikan tempat tidur. Mereka kecewa karena kamar mereka tidak memadai seperti kamar peserta perempuan.

Selain itu, beberapa acara yang sudah dijadwalkan sejak awal terpaksa harus diundur dan dibatalkan. Peserta juga mengeluhkan masalah sarapan yang minim dan bisa dibilang kurang cukup untuk mengisi perut di pagi hari. “Panitia sudah mengupayakan yang terbaik namun tetap ada keterbatasan yang kami miliki. Segala kekurangan dari kegiatan ini kami jadikan pembelajaran dan menjadi tolak ukur untuk kegiatan berikutnya,” ungkap perempuan berumur 19 tahun ini.

Pada akhir acara ditentukan pemenang dengan beberapa kategori yaitu Ida Bagus Anom  Suwiryantha sebagai peserta terfavorit, Dewa Ngakan Putu Gede Darmadi sebagai peserta terkomunikatif, kelompok 3 sebagai pemenang lomba pipa air, kelompok 2 sebagai pemenang lomba voli air dan kelompok terfavorit. Kategori pemenang ini dinilai dari pemenang lomba, keaktifan serta tingkah laku, dan pemahaman akan materi yang ditangkap masing-masing peserta.

Perlu Evaluasi ke Depan
Secara keseluruhan, Evayani mengaku sudah cukup puas dengan kelancaran acara LKMM-TD ini. Walaupun masih banyak kekurangan di dalam pelaksanaannya, namun ia bersyukur acara ini berakhir dengan cukup sukses. “Saya juga berterima kasih kepada semua panitia yang sudah bekerja keras dalam melancarkan seluruh rangkaian acara ini. Tanpa kalian acara ini tidak akan berjalan dengan baik. Harapan untuk ke depannya, agar kegiatan seperti ini dapat berjalan lebih baik lagi dan kami dapat belajar dari segala kekurangan sebelumnya,” harapnya.

I Made Mas Semara Geni juga mengungkapkan bahwa ia sebagai peserta merasakan manfaat yang begitu besar karena potensi sosial pribadi peserta ditingkatkan dengan pelatihan-pelatihan yang menarik dan bermanfaat untuk pembinaan dan mengatur diri. “Namun saya menyayangkan ketika kakak BEM menyinggung salah satu teman peserta sampai-sampai mentalnya drop. Saya rasa mereka masih terlalu emosi dan tidak menerima kenyataan bahwa kita masih anggota baru dan belum berpengalaman. Jika memang salah, mungkin bisa diberitahu dengan baik-baik,” ungkapnya.

Dewa Ngakan Putu Gede Darmadi atau biasa disapa Dewa mengungkapkan bahwa dari acara ini, ia mendapatkan ilmu baru tentang kepemimpinan dan belajar kekompakan dalam berorganisasi serta mendapatkan teman baru. “Pesan saya, sarana prasarananya agak kurang tapi secara keseluruhan sudah bagus,” pesannya.

Dari semua keterbatasan tersebut, kita juga jangan sampai melupakan bahwa banyak kenangan dan manfaat yang didapat dari acara LKMM-TD ini. Jangan sampai seperti pepatah yang mengatakan “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” yang artinya hanya karena kesalahan kecil yang nampak tiada artinya, seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan. Sama seperti acara LKMM-TD ini, jangan sampai hanya dengan beberapa keterbatasan yang terjadi, maka kita terus saja menyalahkan BEM selaku panitia ataupun melupakan manfaat yang banyak kita dapatkan dalam acara ini.

Confusius pernah berkata bahwa orang yang tak pernah mencicipi pahit, tak akan tahu apa itu manis. Maka, kita berharap saja ke depannya setelah panitia sempat mencicipi "pahit" maka mereka akan berkembang hingga mampu mencicipi "manis" di kegiatan selanjutnya. (yun/rin)

Selasa, 26 November 2013

Tender Seminar Nasional IKAMAHI SUKSES

Tender Seminar Nasional Ikatan Alumni Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia (IKAMAHI) yang awalnya sempat mengalami pro dan kontra dalam pelaksanaannya akhirnya terwujud juga.  Seminar Nasional ini dilaksanakan oleh IKAMAHI dengan bekerjasama dengan senat mahasiswa fakultas ekonomi (SMFE) pada hari Sabtu kemarin (23/11/13) bertempat di Aula Rektorat lantai III Universitas Hindu Indonesia (UNHI).
            SMFE menerima tender Seminar Nasional dari IKAMAHI ini dengan alasan ingin menunjukkan kalau Fakultas Ekonomi tidak hanya membahas mengenai ekonomi saja namun juga masalah lainnya seperti politik. I Made Kurniawan selaku ketua SMFE menyatakan bahwa mereka senang bekerjasama dengan IKAMAHI karena ketua IKAMAHI mempunyai banyak relasi dengan orang penting sehingga gampang dalam mencari pembicara yang berbobot untuk Seminar.  “Misi kami selama ini yaitu untuk bekerjasama dengan organisasi dan juga alumni di Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Melalui Seminar Nasional yang diadakan bersama IKAMAHI ini, misi tersebut mulai dapat terwujud,” papar mahasiswa semester 5 ini.
            Seminar Nasional yang bertemakan “Pendidikan Politik dan Relevansinya dengan Manajemen Kepemimpinan Hindu”  ini awalnya mengalami kontroversi karena dikira akan menjadi ajang kampanye politik. Namun ternyata Seminar Nasional ini memang benar-benar untuk pendidikan mengenai politik. “Seminar ini bersifat netral bukan untuk kepentingan politik. Terbukti dari isi materi Seminar ini yang tidak mengungkit mengenai partai politik melainkan lebih kepada kepemimpinan dan pendidikan politik sesuai dengan tema yang diangkat,” jelasnya.
            SMFE menjadi satu-satunya organisasi kemahasiswaan (ORKEMAS) yang akhirnya mengajukan proposal untuk mengambil tender Seminar Nasional ini. Awalnya niat ini datang ketika SMFE memang membuat program kerja (PROKER) Seminar Nasional untuk bulan November. Niat ini berbanding lurus dengan tawaran dari IKAMAHI kepada ORKEMAS di kampus untuk bekerjasama menyelenggarakan seminar nasional.
            “Ini merupakan Seminar Nasional pertama yang kami kelola. Walaupun seminar ini berjalan berkat kerjasama dengan IKAMAHI, namun kami senang karena acara berakhir dengan sukses serta antusias dari peserta cukup besar untuk mengikuti Seminar Nasional ini. Terutama dari mahasiswa semester satu sangat bersemangat untuk menjadi peserta Seminar sampai-sampai kami harus banyak menolak pendaftaran lagi karena tempat yang terbatas. Ya, walaupun kami sadari Seminar ini diadakan secara mendadak sehingga sosialisasinya masih kurang, dan kami menyesali hal itu. Untuk ke depannya kami berharap dapat membuat acara Seminar Nasional ini dengan mandiri serta diadakan di aula Widya Sabha jika sudah jadi sehingga mampu menampung peserta lebih banyak,” harap mahasiswa prodi manajemen ini.
            Baik dari SMFE maupun IKAMAHI merasa puas dengan berjalan lancarnya acara Seminar Nasional ini. I K. Satria S.Ag selaku wakil ketua IKAMAHI menuturkan bahwa tujuan awal mereka untuk menggandeng ORKEMAS dalam menyelenggarakan Seminar Nasional ini akhirnya terwujud juga. “Secara tidak langsung, Seminar Nasional ini kami adakan agar mahasiswa tahu kalau di UNHI juga ada yang namanya ikatan mahasiswa dan setelah mereka lulus dari UNHI, mereka dapat bergabung dengan IKAMAHI. Selain itu, untuk PROKER pertama kami ini, kami berharap dapat menjalin kerjasama dengan ORKEMAS di kampus,” paparnya. (yun/iap/tpg/rin)


Pendidikan Politik Masuk UNHI


menyanyikan lagu Indonesia Raya
Tembawu - Dalam rangka mengajarkan pendidikan politik kepada mahasiswa, Ikatan Alumni Universitas Hindu Indonesia (IKAMAHI) bekerjasama dengan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi (SMFE) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar melaksanakan Seminar Nasional yang bertempat di Aula Gedung Rektorat, pada hari Sabtu kemarin (23/11/2013). Seminar dengan tema “Pendidikan Politik dan Relevansinya dengan Manajemen Kepemimpinan Hindu” ini menghadirkan 2  pembicara yaitu Drs.Ida Bagus Gede Subawa, M.Si selaku Direktur Pendidikan Agama Hindu dan Gede Pasek Suardika, SH.MH selaku anggota DPR RI Komisi 3.
 Seminar ini tidak hanya dihadiri mahasiswa yang berasal dari UNHI, namun turut serta juga mahasiswa dari perguruan tinggi lain di Bali yang diundang pada Seminar Nasional ini. Menurut I Made Kurniawan selaku Ketua SMFE, Fakultas Ekonomi tidak hanya membahas mengenai ekonomi saja namun juga masalah lainnya seperti politik. Pelaksanaan Seminar Nasional ini memang sudah menjadi program kerja kami di bulan November dan akhirnya terwujud juga setelah bekerjasama dengan IKAMAHI. Harapan kami kedepannya mampu mengadakan seminar sendiri,” ungkapnya. UNHI sebagai Universitas besar harus didukung oleh stick holder, salah satunya yaitu IKAMAHI. Kita sudah berkaca dari pengalaman seminar ini dan ke depannya kita akan mencari inovasi apa yang akan kita sumbangkan untuk Universitas,” ungkap I K. Satria S.Ag selaku wakil ketua IKAMAHI.

Pendidikan politik sangat berperan penting bagi mahasiswa untuk mengubah sikap dan perilaku individu dan masyarakat sehingga bisa memahami dan menghayati nilai-nilai sistem politik yang ideal yang hendak dibangun di tempat mereka berada. Kedepannya agar mahasiswa UNHI lebih sadar dan lebih pintar memilih pemimpin yang tepat dan berlandaskan ajaran Agama Hindu.  Selama ini banyak mahasiswa menilai bahwa politik itu kotor dan hanya menjadi tempat perebutan kekuasaan. Namun dalam kaitannya dengan kepemimpinan Hindu dan ajaran agama Hindu, politik dapat menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. (nd/ps/jm)

Minggu, 17 November 2013

Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HMPWK) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Gelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) SMA/SMK dan Esai SMP se-Bali

Pada tanggal 16 November 2013 untuk ke-3 kalinya HMPWK UNHI mengadakan LKTI tingkat SMA/SMK dan Lomba Esai tingkat SMP se-Bali yang diselenggarakan di Auditorium Rektorat  Lantai 3 UNHI. Tema yang diangkat untuk LKTI tingkat SMA/SMK tahun ini adalah “Generasi Muda Peduli Kota” dan tema untuk lomba esai  tingkat SMP adalah “Kota Impianku”.
Adapun tujuan dari LTKI-PWK dan esai yang telah disampaikan oleh Ketua Panitia Acara yaitu Intan Paramita antara lain memberikan wadah dan kesempatan siswa untuk mengembangkan apresiasi dan kreativitas siswa dalam pembuatan karya tulis dan esai ilmiah, mengembangkan kepekaan di kalangan siswa/siswi terhadap kondisi perkotaan masa kini, membangun budaya berfikir kritis di kalangan generasi muda dan melaksanakan program kerja HMPWK “Pranatacara Bumandhala”.
Diangkatnya tema ini diharapkan generasi muda mampu mempertajam analisa dan kepekaan terhadap berbagai masalah perkotaan dan mewujudkan sustainable city atau kota berkelanjutan yang dituangkan dalam sebuah karya tulis.
Acara ini menghadirkan para peserta SMP, SMA/SMK yang telah lulus dalam seleksi di antaranya SMAN 1 Blahbatuh, SMAN 2 Semarapura, SMAN3 Denpasar dengan dua tim yang lulus seleksi, dan SMAN 1 Gianyar dengan dua tim yang lulus seleksi. Juri dari LKTI berasal dari dosen prodi PWK UNHI yaitu Ir. I Gusti Putu Anindya Putra, MSP , Ir. Nyoman Sukamara, CES dan Ir. Made Gede Sudharsana. Dipl. Um. Dan untuk peserta esai terdiri dari SMPN 2 Denpasar, SMPN 3 Denpasar, SMPN 4 Denpasar, SMPN 12  Denpasar, SMP (SLUB) Saraswati 1 Denpasar, SMPN 2 Kediri, SMP Wisata Sanur dengan dua tim yang lulus seleksi dan SMPN 1 Gianyar dengan dua tim yang lulus seleksi. Seleksi ini dilakukan sehari sebelum diselenggarakan acara yaitu pada tanggal 15 November 2013.
Selain peserta, acara ini dihadiri oleh Dr. Ida Bagus Dharmika, MA selaku Rektor UNHI beserta Drs. Ida Bagus Made Mertha, M.Si sebagai Wakil Rektor III UNHI, Prof. Dr. I Putu Gelgel, SH.,M Hum sebagai Direktur Pasca Sarjana, para Dekan dan kaprodi seluruh fakultas di Lingkungan UNHI. Tidak ketinggalan juga Ni Putu Era Sukmayanti selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan seluruh Ketua Senat fakultas yang terdapat di UNHI.
Peresmian acara sebagai tanda dimulainya lomba ditandai oleh pemukulan gong yang dilakukan oleh Rektor UNHI dengan didampingi oleh dekan fakultas dan ketua panitia acara LKTI-MPWK3.  LKTI dan Esai dilakukan di dua ruangan terpisah, hingga pukul 16.00 wita dan didapatkan juara-juara yang telah memenangkan perlombaan. Untuk LKTI juara 1 diraih oleh SMAN 5 Denpasar , juara 2 diraih oleh SMAN 2 Denpasar, dan juara 3 diraih oleh SMAN 1 Blahbatuh. Untuk juara esai didapatkan oleh SMPN 12 Denpasar. (nj)

Jumat, 15 November 2013

Kesenian Okokan Daerah “Gudang Beras” Tabanan-Bali



Pulau Bali terkenal akan berbagai macam ritual dan budayanya. Hal ini merupakan daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu atraksi budaya yang sudah dikenal di mancanegara adalah okokan. Okokan adalah salah suatu alat musik bunyi-bunyian yang pada umumnya terbuat dari bahan kayu yang dilobangi hampir menyerupai kentongan, tetapi didalamnya diisi pemukul yang disebut palit. Kesenian okokan ini terdiri dari beberapa alat musik tradisi yang diambil dari alat-alat yang dipakai para petani seperti : Okokan yaitu kalung keroncongan sapi, Teng-Teng yaitu bekas cangkul petani, dan Kulkul yaitu alat yang dipakai untuk menghalau burung atau tetengeran di ladang oleh petani. Okokan ini akan mengeluarkan irama tertentu jika diayun-ayunkan.

Senin, 11 November 2013

RITUAL SAKRAL PENGEREBONGAN KESIMAN-DENPASAR



       
      Pada hari Minggu tanggal 10 November 2013 Desa Kesiman Petilan-Denpasar Timur melaksanakan upacara keagamaan yang biasa disebut dengan “Upacara Pengerebongan”.  Upacara ini dilakukan di Pura Dalem Pengerebongan,yang mana upacara ini dihadiri oleh seluruh warga Desa Kesiman yang ikut mengusung Pura tersebut. Upacara Pengerebongan diaksanakan oleh penduduk setempat setiap 210 hari yakni pada hari Minggu wuku Medangsia ( Redite Medangsia) atau tepatnya seminggu setelah Hari Raya Kuningan.

      Upacara Pengerebongan merupakan ritual yang diwariskan oleh puri Agung Kesiman, dan apabila dilihat dari segi kata, Pengerebongan sendiri berasal dari kata “Rebu” yang dalam bahasa kawi berarti pesta yang bertujuan untuk menghibur atau membesarkan hari seseorang. Kata ini mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “Pengerebuan”. Perlahan kata ini berubah menjadi Pengerebong hingga akhirnya menjadi Pengerebongan. Upacara ini dimulai pukul 08.00 yang diawali dengan melakukan acara tabuh rah (taburan darah binatang yang digunakan dalam rangka upacara agama atau yadnya).


      Pada acara ini, para mangku dan semua Bhatara (seperti pratima, barong, rangda  dan Ratu Ayu) yang ada di pura-pura Desa Kesiman dihadirkan (lunga) ke Pura Dalem Pengerebongan sebelum dilakukan ritual ini. Setelah semuanya berkumpul barulah acara ini dimulai, yaitu semua mangku dan Bhatara berjalan mengelilingi wantilan yang ada di pura tersebut sebanyak tiga kali. Pada saat melakukan ritual ini banyak dari orang yang mengusung barong dan rangda mengalami kerauhan. Suasana magis begitu terasa ketika acara ini berlangsung. “Kalo pas acara ini pasti kekuatan magisnya terasa banget dan pasti banyak pengusung yang kerauhan jadi suasana sakralnya bener-bener terasa” ungkap Dewi salah seorang warga Desa Kesiman Petilan yang hadir pada acara tersebut.

      Setelah ritual mengelilingi wantilan usai, acara dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan bersama, yang mana acara ini merupakan acara puncak dari serentetan acara yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun makna dari Upacara Pengerebongan ini adalah untuk mengingatkan kebersamaan umat Hindu melalui  ritual sakral untuk  menjaga keharmonisan yaitu dengan memelihara hubungan antar manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan serta meningkatkan spiritual umatNya. Selain itu, tujuan dari pelaksanaan upacara ini adalah untuk tetap menjaga eksistensi kebudayaan Bali di tengah era globalisasi saat ini yang mana sisi-sisi kebudayaan semakin memudar dan tak jarang digantikan oleh kebudayaan-kebudayaan modern. (ind/nj/snd)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting