Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2013

Kesenian Okokan Daerah “Gudang Beras” Tabanan-Bali



Pulau Bali terkenal akan berbagai macam ritual dan budayanya. Hal ini merupakan daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu atraksi budaya yang sudah dikenal di mancanegara adalah okokan. Okokan adalah salah suatu alat musik bunyi-bunyian yang pada umumnya terbuat dari bahan kayu yang dilobangi hampir menyerupai kentongan, tetapi didalamnya diisi pemukul yang disebut palit. Kesenian okokan ini terdiri dari beberapa alat musik tradisi yang diambil dari alat-alat yang dipakai para petani seperti : Okokan yaitu kalung keroncongan sapi, Teng-Teng yaitu bekas cangkul petani, dan Kulkul yaitu alat yang dipakai untuk menghalau burung atau tetengeran di ladang oleh petani. Okokan ini akan mengeluarkan irama tertentu jika diayun-ayunkan.

Senin, 11 November 2013

RITUAL SAKRAL PENGEREBONGAN KESIMAN-DENPASAR



       
      Pada hari Minggu tanggal 10 November 2013 Desa Kesiman Petilan-Denpasar Timur melaksanakan upacara keagamaan yang biasa disebut dengan “Upacara Pengerebongan”.  Upacara ini dilakukan di Pura Dalem Pengerebongan,yang mana upacara ini dihadiri oleh seluruh warga Desa Kesiman yang ikut mengusung Pura tersebut. Upacara Pengerebongan diaksanakan oleh penduduk setempat setiap 210 hari yakni pada hari Minggu wuku Medangsia ( Redite Medangsia) atau tepatnya seminggu setelah Hari Raya Kuningan.

      Upacara Pengerebongan merupakan ritual yang diwariskan oleh puri Agung Kesiman, dan apabila dilihat dari segi kata, Pengerebongan sendiri berasal dari kata “Rebu” yang dalam bahasa kawi berarti pesta yang bertujuan untuk menghibur atau membesarkan hari seseorang. Kata ini mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “Pengerebuan”. Perlahan kata ini berubah menjadi Pengerebong hingga akhirnya menjadi Pengerebongan. Upacara ini dimulai pukul 08.00 yang diawali dengan melakukan acara tabuh rah (taburan darah binatang yang digunakan dalam rangka upacara agama atau yadnya).


      Pada acara ini, para mangku dan semua Bhatara (seperti pratima, barong, rangda  dan Ratu Ayu) yang ada di pura-pura Desa Kesiman dihadirkan (lunga) ke Pura Dalem Pengerebongan sebelum dilakukan ritual ini. Setelah semuanya berkumpul barulah acara ini dimulai, yaitu semua mangku dan Bhatara berjalan mengelilingi wantilan yang ada di pura tersebut sebanyak tiga kali. Pada saat melakukan ritual ini banyak dari orang yang mengusung barong dan rangda mengalami kerauhan. Suasana magis begitu terasa ketika acara ini berlangsung. “Kalo pas acara ini pasti kekuatan magisnya terasa banget dan pasti banyak pengusung yang kerauhan jadi suasana sakralnya bener-bener terasa” ungkap Dewi salah seorang warga Desa Kesiman Petilan yang hadir pada acara tersebut.

      Setelah ritual mengelilingi wantilan usai, acara dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan bersama, yang mana acara ini merupakan acara puncak dari serentetan acara yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun makna dari Upacara Pengerebongan ini adalah untuk mengingatkan kebersamaan umat Hindu melalui  ritual sakral untuk  menjaga keharmonisan yaitu dengan memelihara hubungan antar manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan serta meningkatkan spiritual umatNya. Selain itu, tujuan dari pelaksanaan upacara ini adalah untuk tetap menjaga eksistensi kebudayaan Bali di tengah era globalisasi saat ini yang mana sisi-sisi kebudayaan semakin memudar dan tak jarang digantikan oleh kebudayaan-kebudayaan modern. (ind/nj/snd)

Jumat, 01 Maret 2013

Tumpek Wariga : Mengingatkan Manusia Untuk Peduli dengan Alam dan Lingkungan.

Tumpek bubuh / tumpek wariga juga disebut tumpek pengatag merupakan turunnya Hyang Ciwa untuk memelihara keharmonisan kehidupan di dunia. Perayaan tumpek wariga ini 25 hari menjelang Hari raya Galungan bertujuan agar pohon / tumbuh tumbuhan yang ada disekeliling kita diharapkan dapat memenuhi kebutuhan umatnya. Seperti tumbuh tumbuhan, daun daunan dan bunga bungaan.
 
Dalam konsepsi Hindu, saat Tumpek Pengatag dihaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa Penguasa tumbuh-tumbuhan yang dikonkretkan melalui mengupacarai pepohonan. Memang, menurut tradisi susastra Bali, yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan hidup dan memberikan hasil kepada manusia adalah Hyang Sangkara. Karenanya, ucapan syukur dan penghormatan kepada Hyang Sangkara mesti dilakukan manusia dengan mengasihi segala jenis tumbuh-tumbuhan.


Dengan demikian, sejatinya, perayaan hari Tumpek Pengatag memberi isyarat dan makna mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada Tumpek Pengatag, momentum kasih dan sayang kepada alam itu diarahkan kepada tumbuh-tumbuhan. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan.


Karena itu pula, tradisi perayaan Tumpek Pengatag tidaklah keliru jika disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi gaya Bali dan kini bisa direaktualisasi sebagai hari untuk menanam pohon. Tumpek Pengatag merupakan momentum untuk merenungi jasa dan budi Ibu Bumi kepada umat manusia. Selanjutnya, dengan kesadaran diri menimbang-nimbang perilaku tak bersahabat dengan alam yang selama ini dilakukan dan memulai hari baru untuk tidak lagi merusak lingkungan. Sampai di sini, dapat disimpulkan para tetua Bali di masa lalu telah memiliki visi futuristik untuk menjaga agar Bali tak meradang menjadi tanah gersang dan kerontang akibat alam lingkungan yang tak terjaga. 


Bahkan, kesadaran yang tumbuh telah pula dalam konteks semesta raya, tak semata Bali. visi dari segala tradisi itu bukan semata menjaga kelestarian alam dan lingkungan Bali, tetapi juga kelestarian alam dan lingkungan seluruh dunia. Istimewanya, segala kearifan itu muncul jauh sebelum manusia modern saat ini berteriak-teriak soal upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jauh sebelum dunia menetapkan Hari Bumi, tradisi-tradisi Bali telah lebih dulu mewadahinya dengan arif. Bahkan jauh sebelum orang menetapkan Desember sebagai bulan menanam pohon.

Hanya memang, perayaan Tumpek Pengatag sebagai Hari Bumi gaya Bali menghadirkan ironi tersendiri. Dalam berbagai bentuk, ritual dan tradisi itu berhenti pada wujud fisik upacara semata, dampak keterjagaan terhadap lingkungan Bali tak tampak secara signifikan. Kenyataannya, alam Bali tiada henti tereksploitasi. Situasi serba paradoks ini sesungguhnya lebih dikarenakan pemaknaan yang tidak total atau tanggung terhadap ritual-ritual yang ada. Ritual-ritual itu yang sesungguhnya hanya alat, sebatas wadah untuk mengingatkan, tidak diikuti dengan laku nyata, tidak disertai dengan aksi konkret. Karenanya, yang mesti dilakukan saat ini adalah upaya untuk memaknai ritual-ritual itu secara lebih kontekstual dan total sekaligus menyegarkannya dalam tataran laku tradisi. Perlu ada reaktualisasi terhadap kearifan-kearifan tradisi yang dimiliki Bali.


Karenanya, akan menjadi menawan, bila Tumpek Pengatag tak semata diisi dengan menghaturkan banten pengatag kepada pepohonan, tapi juga diwujudnyatakan dengan menanam pohon serta menghentikan tindakan merusak alam lingkungan. Dengan begitu, Tumpek Pengatag yang memang dilandasi kesadaran pikir visioner menjadi sebuah perayaan Hari Bumi yang paripurna. Bahkan, manusia Bali bisa lebih berbangga, karena peringatan Hari Bumi-nya dilakonkan secara nyata serta indah menawan karena diselimuti tradisi kultural bermakna kental. Bahkan, Bali tak perlu lagi dibuatkan tradisi baru: Hari atau Bulan Menanam Pohon.


Sumber : http://www.denpasarkota.go.id/main.php?act=edi&xid=54

Selasa, 15 Januari 2013

Hari Raya Pagerwesi


Hari Raya Pagerwesi ini jatuh tiap 6 bulan ( 210 hari ) pada Rabu Kliwon Shita, Pagerwesi juga termasuk rerainan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun rohaniawan. Hari Pagerwesi yaitu hari yang di khususkan untuk memagari jiwa dalam peyucian diri untuk dapat menerima kemuliaan dan berkah dari Sanghyang Pramesti Guru . (Tuhan Yang Maha Pencipta).

Pagerwesi mempunyai arti Pagar dari Besi. Ini melambangkan Segala sesuatu yang dipagari akan terlihat kokoh dan kuat atau dalam pengertian lain, sesuatu yang bernilai tinggi jangan sampai mendapat gangguan apa lagi dirusak. Bagi umat Hindu Hari Raya Pagerwesi dalam bahasa Bali-nya disebut magehang awak, Sanghyang Pramesti Guru dengan nama lain Dewa Siwa adalah manifestasi Tuhan yang di percaya menjadi gurunya manusia dan alam semesta ini juga yakini dapat menghapus segala hal hal yang buruk dalam diri manusia.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan, 

Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. 

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sebagai berikut :
Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara Pagerwesi sesungguhnya dititik beratnya kepada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Karena mereka yang lebih mengerti dan memahami tentang keberadaan Sang Hyang Pramesti Guru beserta para dewa lainnya, lalu kemudian disebar luaskan dan diajarkan kepada masyarakat dan umat Hindu Khususnya.

Pelaksaan Hari Raya Pagerwesi ini diadakan saat tengah malam dengan upacara dan persembahan yang ditujukan untuk Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta adalah 5 unsur terbentuknya manusia yang terdiri tanah, air, api, angin, ruang/tempat. Setelah upacara panca maha bhuta selesai dilaksanakan lalu di lakukan Yoga-Samadhi yang bertujuan untuk menentramkan hati dan pikiran agar dapat menahan gejolak dan hasrat yang tidak baik. Selain itu juga pada saat Hari Haya Pagerwesi dianjurkan berpuasa selama 1 hari ( 24 jam ). Konon pada jam 3:30 Sang Hyang Pramesti Guru disertai para Dewa dan Pitara, turun memberikan berkah pencerahaan kepada umat nya yang benar benar menjalankan.

Makna filosofinya adalah hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, dengan adanya guru kita bisa mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, tanpa guru kita bisa kehilangan arah dari tujuan semula sehingga tindakan bisa jadi salah arah . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia dan di alam lain nanti. Pengetahuan akan lebih bermakna dan berarti bila ada Guru yang membimbing, mengajarakan dan mengayomi.

Perayaan Hari Raya Pagerwesi ini adalah rentetan dari hari raya yang ada di Bali, dan bagi anda yang ingin melihat dan menyaksikan upacara adat pada hari raya Pagerwesi ini ada baiknya menyatu atau bersosialisasi dan terjun langsung kemasyarakat, disitu anda akan merasakan suasana dan keberadaannya juga unikan dari upacara tersebut.

Dari semua tulisan diatas disimpulkan bila Kehidupan kita tidak dipagari dan dibentengi dengan kebaikan ,pengetahuan yang cukup dan bimbingan rohani yang benar juga iman yang kuat, maka moral manusia akan rusak. Dengan Yoga-Samadhi kita memusatkan pikiran kita untuk menghadap sang Pencipta sebagai ungkapan terimakasih dengan apa yang telah diberikannya, Kunci dari itu semua kita perlu adanya Guru yang dapat membimbing kita agar dapat menuju ke arah yang lebih baik dan benar, sedang kan Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita agar selalu menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, bersyukur, berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai Guru sejati yang memberikan pengetahuan, kesejahteraan dan kemakmuran yang juga menciptakan alam beserta isinya.

sumber : http://wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/hari-raya-pagerwesi

Kamis, 10 Januari 2013

Makna Perayaan Hari Raya Siwa Ratri

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bah-wa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitabkitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkanl seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:

”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.

”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*

Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:

“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.

Purana
Sivaratri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:

Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para rsi, menguraikan pentingnya upacara Sivaratri. Seseorang bernama Rurudruha seperti telah disinggung di atas.

Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa denganWasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka. 



sumber : http://www.mediahindu.net/berita-dan-artikel/artikel-umum/72-makna-perayaan-hari-raya-siwaratri.html

Kamis, 03 Januari 2013

Denpasar Festival ke-V Berlangsung Meriah dan Semarak

Di penghujung tahun 2012 yang lalu, kawasan Patung Catur Muka (titik nol kilometer Kota Denpasar) kembali menjadi pusat ajang tahunan Denpasar Festival ke-V yang diadakan mulai dari tanggal 28-31 Desember 2012 dengan mengambil tema "Kreta Angga Wihita" atau “Kotaku, Rumahku”. Denpasar Festival (Denfest) adalah ajang penampilan kebudayaan dan kreativitas masyarakat Kota Denpasar Dengan mengadakan festival setahun sekali di jalanan, Pemkot Denpasar ingin mengajak masyarakat Kota Denpasar untuk berinteraksi dalam menampilkan hasil-hasil kreasi terbaik mereka.

Tahun ini Denfest sangat menarik minat kalangan masyarakat, masyarakat yang datang bukan hanya berasal dari masyarakat local, melainkan juga bersaal dari wisatawan domestic maupun mancanegara. Dari ribuan pengunjung yang hadir sebagian besar masih didominasi oleh kalangan anak muda yang ingin menghabiskan atau menikmati suasana akhir tahun di tengah kota Denpasar. Banyak budaya lokal kota Denpasar yang dapat dinikmati, seperti pameran endek yang merupakan produk unggulan lokal kota Denpasar, makanan, kerajinan tangan, kreasi anak muda, dan lain-lain.

Denfest tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya bertempat di seputaran Catur Muka, dan dibagi menjadi beberapa titik diantaranya di depan Pura Jagadnata diisi stand pasar tradisional dan tanaman hias( holtikultura), di Jalan Kaliasem diisi stand Job Fair, di Jalan Gajahmada diisi stand kuliner, di jalan Veteran diisi dengan beranekaragam hasil kerajinan (Handicraft), kain, kebaya, serta pakaian adat lainnya. Lobi kantor Walikotapun tak ketinggalan dirubah menjadi tempat pameran foto. Beragamnya hiburan yang ditampilkan mulai dari fashion show, pentas kesenian dan kebudayaan, musik menambah semaraknya gelaran Denfest ini.

Di stand pasar tradisional yang ada di depan Pura Jagadnata, disana menyediakan stand makanan dan minuman tradisional, tas maupun sandal dari batik atau anyaman bambu, perhiasan perak yang berasal dari sukawati, buku-buku agama hindu, pernak-pernik khas Bali seperti kalung, gelang, cincin, kain kebaya, produk tekstil tenun endek tradisional, keramik yang dibentuk cangkir, mug, vas bunga. Selain itu di area ini ada pameran tanaman hias, dan orchid (anggrek), bahkan salah satu stand menyediakan tanaman obat herbal.
 
Pada gelaran Denfest V ini diadakan Job Fair dari tanggal 29-30 Desember 2012 yang bertempat di Jalan Kaliasem, Job Fair ini berguna bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Kota Denpasar. Sedangkan di Jalan Veteran dipamerkan beraneka jenis kreasi kriya wastra yang bertempat disekitaran jalan veteran menjual busana endek songket, tas, ataupun sandal dari bahan endek ataupun songket.

Bukan itu saja, untuk pecinta fotography juga disediakan pameran foto yang mengambil tempat di lobi Kantor Walikota Denpasar. Pameran foto ini berisi lukisan-lukisan dari beberapa seniman kita di Bali, selain itu pada pameran foto tersebut mengambil beberapa tema diantaranya kebudayaan, kehidupan, dan lain-lain. Pameran ini juga menjadi salah satu daya tarik pada gelaran Denfest V tahun ini. Ini juga merupakan sebuah ajang untuk mewadahi kreatifitas masyarakat khususnya yang mempunyai minat dan bakat di dunia fotography untuk menyalurkan kreatifitasnya.


Arena Denfest yang begitu luas, mulai dari pasar tradisional, Job Fair, Pameran Foto tentunya cukup menguras energi untuk berkeliling. Tapi tenang saja untuk mengganti energi setelah berkeliling disediakan stand kuliner mulai dari pintu keluar Kantor walikota sampai lampu merah di Jalan Gajahmada, stand kuliner yang pastinya akan memanjakan lidah kita dengan cita rasa masing-masing. Saking banyaknya terkadang sampai bingung untuk memilihnya, di stand kuliner ini memang sengaja menyediakan makanan dan minuman tradisional khas Bali. Mulai dari Ayam betutu, tipat cantok, serombotan, jaje Bali semuanya tersedia disini. Ada juga kuliner inovasi baru hasil kreatifitas masyarakat seperti bakso lele, bakso vegetarian juga ada disini.Untuk masalah harga tidak usah khawatir, semua makanan dan minuman yang tersedia harganya cukup terjangkau sesuai dengan kantong masyarakat, terlebih lagi kalangan  anak muda yang merupakan sebagian besar pengunjung Denfest ini.
  
Terlepas dari penyelenggaraannya yang meriah dan semarak perlu juga dilakukan evaluasi atau pembenahan untuk perbaikan kedepannya. Hal yang paling menjadi sorotan yakni masalah kemacetan lalu lintas. Dari tahun ke tahun masalah ini masih terus mencari jalan keluarnya, walaupun sudah diantisipasi dengan pengalihan arus tapi tetap saja ada beberapa kendaraan yang bandel tetap melanggar pengalihan arus. Selain itu masalah penataan parker juga perlu diperhatikan, seperti di pinggir lapangan I Gusti Ngurah Made Agung berjubel motor diparkir disana. Hal ini sangat menganggu lalu lintas kendaraan dari arah Jalan Udayana menuju Jalan Surapati, terlebih lagi lalu lalang masyarakat pengunjung Denfest yang menyeberang jalan. Satu lagi hal yang perlu diperhatikan adalah masalah antisipasi hujan, agar stand yang disediakan memang cukup berkualitas untuk menahan air hujan sehingga tidak menggangu kenyamanan pengunjung.

Gelaran Denfest yang memasuki usia kelima ini bisa dibilang sukses, hal ini dibuktikan dengan jumlah pengunjung yang dari tahun ke tahun semakin meningkat, walau beberapa kali sempat turun hujan namun hal itu tidak mengurungkan niat masyarakat untuk berkunjung. Tema yang diambil dalam gelaran Denfest V ini "Kreta Angga Wihita" atau “Kotaku, Rumahku” juga cukup bagus. Hal ini bertujuan untuk menyadarkan kita bahwa Kota kita adalah rumah kita, terlepas dari heterogenitas atau kemajemukan suku, agama, dan ras masyarakat serta budaya yang ada di Kota Denpasar diharapkan kedepannya tetap bisa berinteraksi dan bersinergi sehingga terwujud harmonisasi sesuai dengan visi Kota Denpasar yakni Menjadi Kota yang Berwawasan Budaya. (Era/Sri/Gun)


Senin, 31 Desember 2012

Kolaborasi Seni antara UNHI Denpasar dan ISI Jogjakarta.

Fakultas Pendidikan Agama dan Seni (FPAS) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar bekerjasama dengan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta melakukan Kolaborasi Seni di lapangan kampus UNHI, tepatnya di pelataran depan Pura Mahawidya Mandira pada hari sabtu, 29 desember 2012. Kegiatan ini merupakan kunjungan balasan dari ISI Jogjakarta, setelah sebelumnya pada maret 2012 UNHI Denpasar berkunjung ke Jogjakarta. Selain itu, ini merupakan bentuk kerjasama antara UNHI Denpasar dan ISI Jogjakarta sesuai dengan nota kesepahaman yang sudah ditandatangani antara kedua kampus sebelumnya.  

Kegiatan Kolaborasi Seni ini dihadiri oleh Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI yang juga merupakan mantan Rektor UNHI Denpasar Prof. Dr. IB Yudha Triguna, M.Si, Wakil Rektor I (WR I) UNHI Dr. I Wayan Winaja, M.Si, Wakil Rektor II (WR II) UNHI Dr. A.A Sadhiarta, M.Si, Dekan FPAS Dr. Ni Putu Suwardani, M.Pd dan juga beberapa Dekan dan Wakil Dekan dari perwakilan masing-masing fakultas. Selain dihadiri oleh pejabat rektorat, dekanat, dosen dan pegawai, para mahasiswa tidak ketinggalan turut hadir menyaksikan pementasan Kolaborasi Seni ini.

“Melalui kegiatan ini diharapkan hubungan kerjasama yang terjalin antara UNHI Denpasar dan ISI Jogjakarta akan semakin erat. Kedepannya diharapkan hubungan kerjasama yang dilakukan bukan hanya dalam bentuk kolaborasi seni  di bidang pergelaran atau pertunjukan saja, melainkan juga dari segi pendidikan misalnya dalam hal pertukaran mahasiswa, begitu juga ketika ada mahasiswa atau dosen yang ingin melanjutkan studinya baik dari UNHI ke ISI Jogja atau sebaliknya agar bisa dibantu” ujar Dr. I Wayan Winaja, M.Si dalam sambutannya mewakili Rektor UNHI.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Jogjakarta Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST, M.Hum menyebutkan bahwa tujuan diadakan kegiatan ini selain untuk menjalin hubungan kerjasama antara ISI Jogjakarta dengan UNHI Denpasar juga yang terpenting adalah sebagai pelestarian seni dan budaya Indonesia.

Beliau menambahkan bahwa dalam memersiapkan kolaborasi ini ISI Jogja  sudah melakukan latihan sejak bulan September lau, pada kesempatan ini ISI Jogja melibatkan sekitar 80 peserta dan membawakan dua karya seni tari. Yang pertama adalah tari Bawung Jaya Wisesa yang merupakan perpaduan tari baris Bali dengan tari Lawung Jogjakarta dengan menggambarkan ketaatan dan kesigapan prajurit. “Selain itu kami juga membawakan fragmen yang menceritakan percintaan dan pertemuan seorang raja dari Bali Dwipa yakni Raja Udayana dengan Putri Mahendradatta dari Jawa Timur” ungkapnya.

Sementara itu  mahasiswa FPAS UNHI sendiri melibatkan sekitar 50 peserta yang ambil bagian pada pergelaran kali ini, dan membawakan Tari Gabor dan Barong. Tari Gabor merupakan tarian yang sejenis dengan tarian Sekar Jagat yang memiliki arti sebagai ucapan selamat datang. Sementara itu tari barong merupakan Tarian yang berasal dari kebudayaan Pra-Hindu ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan dan kebatilan. Dalam Tari Barong kebajikan direpresentasikan pada lakon Barong, yakni dua orang penari dengan kostum binatang berkaki empat. Sementara kebatilan dimainkan oleh Rangda, sosok menyeramkan dengan taring di mulutnya. Keduanya bertarung sambil menari mengikuti alunan musik tradisional Bali. Dibalik keunikan dan keindahannya tari barong juga memiliki makna dan nilai luhur yang mendalam. Pesan bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan tercermin jelas melalui kemenangan Barong melawan Rangda.


Bergantian UNHI Denpasar dan ISI Jogja memnampilkan penampilan terbaiknya,diawali dengan tari Gabor , tari Bawung Jaya Wisesa, kemudian dilanjutkan dengan tari Barong hingga akhirnya fragmen tari garapan ISI Jogja menjadi penampilan yang terakhir. Sebuah pergelaran yang sangat menarik, kolaborasi antara budaya jawa-Bali Kuno. Semua peserta, baik dari ISI Jogja  maupun UNHI Denpasar berkumpul menjadi satu melakukan foto bersama yang menandai berakhirnya kebersamaan di malam itu.(Gun)


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting