Minggu, 23 Desember 2012

Pasar Kodok Jadi Incaran Anak Muda, Pecinta Merek Luar Negeri dengan Harga Miring.

Pasar kodok, mendengar namanya apa yang terbayang dibenak Anda? Mungkin sebuah pasar yang disekelilingnya banyak terdapat binatang kodok, atau bahkan ada yang berpikir jika pasar kodok adalah pasar yang khusus menjual binatang kodok. Kalau memang itu yang terlintas, Anda salah besar karena pasar ini tidak dikelilingi banyak kodok juga bukan menjual kodok melainkan pasar ini menjual pakaian-pakaian bekas. Dulunya dilokasi pasar ini merupakan persawahan yang banyak sekali ditemukan kodok, hal inilah yang kemudian membuat pasar ini disebut pasar kodok.

Pasar Kodok terletak di Desa Dauh Peken, Kediri, Tabanan, Bali. Pasar kodok ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat sekitar 40 menit dari ibu kota Denpasar. Keberadaan pasar kodok ini dimulai sekitar tahun 2001 dan awalnya dimotori oleh para pedagang dari Jawa yang mengadu nasib di Bali, namun kebelakang pasar ini berkembang pesat hingga sekarang terdapat lebih dari 200 orang pedagang yang melakukan aktivitas di pasar ini. Pasar Kodok biasanya buka setiap hari, dan akan lebih ramai di akhir pekan yakni pada hari sabtu dan minggu.
Untuk masuk ke areal pasar, anda cukup membayar Rp 1.000,- untuk kendaraan roda dua dan  Rp 2.000,- untuk kendaraan roda empat. Mulai memasuki area pasar, anda akan disuguhkan suasana pasar yang berisi ratusan pedagang pakaian bekas yang tersebar rapi dalam jajaran kios di areal persawahan yang luas. Berbagai jenis pakaian bekas bisa anda temukan disini, mulai dari baju-baju, celana pendek, celana panjang, pakaian anak-anak dan dewasa sampai pakaian dalam pun ada di pasar ini. Bahkan sekarang sudah mulai ada yang menjual barang selain pakaian seperti tas, karpet permadani, dan lain-lain.


Para pedagang ini mendapatkan pakaian bekas tersebut dari para importer pakaian bekas,  pakaian-pakaian bekas ini didatangkan dari berbagai negara seperti Hongkong, Korea, Taiwan, Singapura, Jepang dan beberapa negara lainnya. Para pedagang membeli dari importir dalam jumlah banyak, satuannya sering disebut per bal (karung) pakaian bekas. Pakaiannya pun bervariatif, ada yang sudah disortir terlebih dulu dan dipisahkan sesuai jenis dan kualitas pakaian bekas itu sendiri, ada juga yang masih bercampur.

Harga per bal pakaian bekas itu berkisar antara Rp. 2 juta - 3 juta/bal. Dengan membayar sejumlah demikian pedagang bisa memperoleh 1000 pcs pakaian bekas. Kemudian para pedagang kembali menjual pakaian-pakaian bekas ke masyarakat di areal pasar Kodok ini. Untuk menambah daya jual pakaian bekas, beberapa pedagang biasanya terlebih dulu mencuci dan menggunakan pewangi pakaian, sedangkan untuk pakaian-pakaian tertentu pun disetrika, di masukkan dalam kemasan plastik dan digantung. Sehingga yang tampak seperti pakaian-pakaian bekas yang masih sangat layak pakai. Namun ada juga yang langsung menjualnya dalam keadaan lecek (lusuh).

Salah satu pedagang yang saya temui yakni Ahmad, ia mengaku mendapatkan pakaian bekas ini dari Sumatera. “Per bal saya dapat 2,5 juta, tapi barang saya khusus kemeja. Kalau yang lain kan ada yang masih campur mas, tapi kalau barang saya sudah dipisah dari sana” Ia juga menceritakan bagaimana awalnya hingga bisa membuka usaha pakaian bekas seperti sekarang ini. “ Dulunya saya cuma bantu-bantu teman karena belum punya modal, barang dagangan teman dibagi-bagi. Kurang lebih 1 tahun begitu mas. Akhirnya saya berani pinjam modal dan mulai buka usaha ini, syukur masih bisa sampai sekarang.” Ungkap pemuda asal Jawa Timur ini.

Bicara soal harga pakaian anda tidak perlu khawatir, semua pakaian bekas disini berkisar dari ribuan sampai ratusan ribu. Untuk pakaian anak-anak misalnya, dijual mulai dari Rp 3.000,- sampai Rp 5.000,- sedangkan pakaian dewasa mulai dari Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,-. Tapi banyak pengunjung yang tak segan-segan merogoh kocek ratusan ribu untuk memborong beberapa potong pakaian bekas bermerk terkenal. Sebut saja merek Levis, Wrangler, Puma, Nike, Polo, GAP dan merek lainnya. 

Seperti pengakuan Eko, Pemuda berusia 20 tahun asal Denpasar ini tampak asik memilih celana yang digantung. Setelah beberapa kali membolak-balik deretan celana, ia pun memilih 2 buah celana pendek dibandrol pedagang Rp 45.000/potong. Tapi setelah tawar-menawar celanapun dibeli Eko seharga Rp25.000/potong.  Di pasar Kodok ini memang diperlukan kemampuan tawar menawar. Apabila bisa memilih dengan sabar dan tidak terburu-buru, kita bisa mendapatkan pakaian bekas bermutu dan dalam kondisi yang masih bagus. “Diluaran seperti di mall atau di toko enggak dapet celana bagus begini 25 ribu”, jelasnya.

Pengunjung Pasar Kodok berasal dari berbagai kalangan, salah satunya adalah kalangan anak muda khususnya yang mengetahui merek-merek ternama dunia. Kalangan anak muda memilih pasar kodok sebagai alternative tujuan shopping mereka bukanlah tanpa alasan. Alasan yang paling mendasar yakni kondisi keuangan yang terbatas, selain itu merek pakaian yang ternama dengan kualitas luar negeri, dan menariknya pakaian yang dijual disini cenderung limited edition (satu jenis). Anak muda cenderung memiliki gaya atau style sendiri dan memilih menggunakan pakaian yang tidak ada kembarannya  sehingga terkesan lebih personal. Efek personalitas ini yang tidak bisa didapat jika kita membeli pakaian di mall atau supermarket karena pakaian-pakaian yang dijual di sana rata-rata dibuat secara massal.

Tetapi umumnya anak-anak muda ini bersikap malu-malu kalau ketahuan membeli pakaian bekas. Sikap malu-malu dari konsumen pakaian bekas ini juga didorong oleh response sebagian besar masyarakat yang menganggap pakaian-pakaian bekas adalah sesuatu yang menjijikkan atau kelas bawah karena tidak jelas asal-usul sejarahnya, juga berkesan kumuh karena dibeli di pasar kodok yang sudah dikenal sebagai pasar pakaian bekas dan pasar OB (pasar obral) ini. Lalu, apa salahnya ketika bisa mendapatkan pakaian bermerek luar negeri dengan kualitas bagus juga dengan harga miring. (Gun)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting