Selasa, 03 September 2013

Ironi BEM : Badan Eksekutif Mahasiswa atau Badan Event Manajemen





“Apalah artinya BEM jika tidak berguna dan memberikan manfaat bagi mahasiswa.
BEM jangan hanya menjadi organisasi formalitas sebagai sebuah kelengkapan
struktur organisasi di sebuah universitas”

Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Begitu juga halnya  organisasi mahasiswa, pada dasarnya organisasi mahasiswa adalah sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa demi mencapai tujuan bersama, namun harus tetap sesuai dengan koridor anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART) yang disetujui oleh semua anggota dan pengurus organisasi tersebut. Organisasi Mahasiswa tidak boleh keluar dari rambu-rambu utama tugas dan fungsi perguruan tinggi yaitu tri dharma perguruan tinggi, tanpa kehilangan daya kritis dan tetap berjuang atas nama mahasiswa, bukan pribadi atau golongan. organisasi mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup vital yakni sebagai wadah aspirasi mahasiswa, melaksanakan kegiatan mahasiswa, pengembangan minat dan bakat mahasiswa serta bertugas untuk mengawasi dan mengkritisi kebijakan kampus yang menyangkut mahasiswa.

Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi antar kampus, organisasi ekstra kampus maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus. Di UNHI sendiri terdapat beberpa organisasi kemahasiswaan intra kampus antara lain Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa Fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).  Salah satu organisasi mahasiswa intra kampus yang menjadi sorotan adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Sebagai organisasi mahasiswa tertinggi yang ada di kampus UNHI, BEM sudah seharusnya menjadi wadah aspirasi sekaligus corong untuk menyuarakan saran dan kritik mahasiswa kepada pihak-pihak terkait, baik itu dekanat atau rektorat. Dalam hal ini BEM sudah seharusnya menyampaikan aspirasi mahasiswa yang menyangkut segala hal tentang mahasiswa dan kampus. Begitu juga dalam hal saran dan kritik, BEM seharusnya menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak mahasiswa seperti misalnya transparansi dana kemahasiswaan, transparansi penerimaan beasiswa, dan lain-lain. Selain itu juga BEM harus memperhatikan sarana prasarana pendidikan yang ada di kampus seperti fasilitas ruang kelas, toilet dan lain-lain yang merupakan penunjang untuk memberikan rasa nyaman kepada mahasiswa.

Realita yang terjadi

Sekarang ini BEM sebagai sebuah organisasi bisa dibilang kurang optimal dalam menjalankan peran dan fungsinya. Hal ini bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan hanya bersifat seremonial seperti seminar atau workshop dan penanaman pohon. Kegiatan-kegiatan seperti seminar atau workshop jika tidak dibarengi implementasi dari materi yang disampaikan itu berarti sama dengan nol besar. Begitu juga halnya dengan penanaman pohon, jika hanya melakukan penanaman tanpa dilakukan pengawasan atau pengelolaan tentu kita tidak tahu bagaimana nasib pohon-pohon yang kita tanam. 

Melihat kondisi tersebut, wajar saja jika kepanjangan BEM yakni Badan Eksekutif Mahasiswa diplesetkan menjadi “Badan Event Manajemen” oleh beberapa mahasiswa. Mereka cukup beralasan, karena pola kerja BEM tidak ubahnya seperti event organizer (EO) yakni usaha dalam bidang jasa yang secara sah ditunjuk oleh clientnya, guna mengorganisasikan seluruh rangkaian acara, mulai dari perencanaan, persiapan, eksekusi hingga evaluasi, dalam rangka membantu mewujudkan tujuan yang diharapkan client dengan membuat acara. Hanya saja BEM disini tidak ditunjuk atau mempunyai client melainkan atas dasar dan kesepakatan anggota bersama.

Hal lain yang semakin membuat BEM semakin terpuruk adalah prilaku beberapa oknum anggotanya. Beberapa oknum anggota bergabung dengan organisasi BEM bukan ingin mencari pengalaman atau mengembangkan diri melainkan hanya ingin mencari popularitas atau ketenaran belaka, terlebih lagi saat penerimaan mahasiswa baru seperti OSPEK. Hal ini akan semakin menurunkan minat mahasiswa untuk bergabung dengan BEM. Mahasiswa yang tergabung di BEM itu adalah mahasiswa terpilih yang sudah barang tentu melalui proses seleksi hingga akhirnya resmi menjadi anggota. Banyak factor yang melatarbelakangi keinginan mahasiswa ingin menjadi BEM, apapun alasannya itu sah-sah saja dan merupakan hak dari mahasiswa itu sendiri. Tapi akan lebih baik jika bergabung dengan organisasi dengan tujuan yang jelas bukan hanya ajang kumpul-kumpul dan bersenang-senang. Lebih dari itu kita harus memahami visi misi organisasi dan melakukan kegiatan sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan dan tentunya tidak bertentangan dengan AD/ART organisasi 

Mengembalikan peran dan fungsi BEM

Kedepan BEM sudah seharusnya melakukan pembenahan-pembenahan, baik itu dari sumber daya manusia (SDM) dan juga aktivitas organisasinya. Dari segi SDM, BEM harus melakukan kaderisasi yang sungguh-sungguh dalam artian melakukan proses seleksi dan penilaian yang objektif terhadap calon-calon anggota BEM, bukan berdasarkan kedekatan emosional belaka. Calon-calon anggota BEM harus dibekali pengetahuan tentang keorganisasian secara mendalam sehingga mereka benar-benar paham dan mengerti tentang apa itu organisasi, peran dan fungsi organisasi dan lain sebagainya. Harapannya adalah ketika mereka selesai mengabdikan diri di BEM ada suatu nilai dan manfaat yang mereka dapatkan. Ketika sudah memutuskan untuk berorganisasi, itu merupakan pilihan yang tepat. Tinggal sekarang bagaimana kita mengembangkan diri dan membangun organisasi ini ke arah yang lebih baik kedepannya.

Sementara itu dari segi aktivitas organisasi atau kegiatan-kegiatan, BEM bisa lebih fokus kepada implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Aspek yang pertama yakni pendidikan, BEM bisa melakukan kegiatan pengembangan potensi diri mahasiswa atau pelatihan-pelatihan seperti pelatihan kewirausahaan atau pelatihan menulis yang dibarengi dengan praktek dan pengawasan, tentunya akan bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh mahasiswa. Kedua yakni penelitian, jumlah penelitian mahasiswa UNHI yang mengikuti program kreativitas mahasiswa (PKM) sekarang masih sangat minim bahkan bisa dihitung dengan jari. Menyikapi hal ini BEM bisa mengundang atau bekerjasama dengan DIKTI melakukan sosialisasi kepada mahasiswa agar semakin banyak yang tahu dan bisa mengikuti PKM kedepannya. Harapannya adalah semakin banyak mahasiswa UNHi yang mengikuti PKM dan secara tidak langsung bisa lebih dini belajar menulis karya ilmiah yang bisa digunakan referensi dalam mengerjakan tugas akhir skripsi nantinya.

Ketiga pengabdian masyarakat, BEM sudah banyak melakukan kegiatan pengabdian masyarakat seperti penanaman pohon, bakti sosial, dan lain-lain. Tapi itu saja belum cukup, harus ada kegiatan pengabdian masyarakat yang lebih lagi dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya yang hanya bersifat seremonial saja. BEM mungkin bisa membuat desa binaan atau dalam ruang lingkup yang lebih kecil sekolah binaan (nonformal) di desa atau wilayah terpencil yang jauh dari ibukota. Disana BEM bisa bekerjasama dengan mahasiswa yang mau menjadi relawan untuk mengajarkan anak-anak, sehingga kegiatan kita benar-benar bisa dirasakan manfaatnya di tengah-tengah masyarakat.

Beberapa kegiatan di atas hanya sebagian kecil dan masih banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan BEM, yang terpenting adalah niat dan komitmen untuk berorganisasi . Apalah artinya BEM jika tidak berguna dan memberikan manfaat bagi mahasiswa. BEM jangan hanya menjadi organisasi formalitas sebagai sebuah kelengkapan struktur organisasi di sebuah universitas. Sekarang saatnya BEM menunjukkan jati diri bahwa BEM adalah Badan Eksekutif Mahasiswa bukan Badan Event Manajemen. (Gun)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting