Tampilkan postingan dengan label Kabar Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Lokal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

KEKAL Bali Gelar Aksi Penolakan Reklamasi Teluk Benoa.




"Laut ini milik kami, tempat tinggal kami, tempat kami mencari nafkah. Ini bukan tempat investor, silahkan kalian angkat kaki dari sini. Wahai Bapak Gubernur jangan rusak laut kami, segera cabut Surat Keputusan (SK) reklamasi teluk Benoa ”

Begitulah sedikit dialog nelayan dalam teaterikal yang ditampilkan pada aksi penolakan reklamasi yang dilakukan oleh Komite Kerja Advokasi Lingkungan Hidup (KEKAL) Bali. KEKAL Bali yang terdiri dari gabungan organisasi, rabu (31/7/2013) pagi menggelar aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Aksi gabungan ini diikuti dari perwakilan Walhi Bali, BEM UNHI, PPMI DK Bali, Frontier Bali, Bali Outbond Community dan beberapa musisi seperti personil dari band Superman Is Dead (SID), nampak hadir Jerink SID, Eka SID. Mereka menggelar aksi di depan Kantor Gubernur dengan kawalan dari aparat.

Aksi yang diikuti puluhan massa mahasiswa ini dimulai dengan aksi jalan kaki dari lapangan niti mandala renon menuju depan Kantor Gubernur. Dalam aksi itu mereka membawa berbagai atribut mulai dari spanduk, poster, dan lain-lain. Disana para mahasiswa menggelar orasi, bergantian massa aksi melakukan orasi sambil meneriakkan yel-yel penolakan atas kebijakan Gubernur Bali mengeluarkan surat keputusan (SK) nomor 2138/02-C/HK/2012 tentang pemberian izin dan hak pemanfaatan, pengembangan dan pengelolaan wilayah perairan teluk Benoa.

Aksi yang diliput oleh beberapa wartawan dari berbagai media ini berjalan lancar dan damai, setelah semua perwakilan organisasi melakukan orasi dilanjutkan dengan aksi teatrikal yang menggambarkan rakyat Benoa  khususnya nelayan yang sengsara dan menderita karena laut tempat mereka mencari nafkah dan rezeki akan direklamasi. Mereka menolak  rencana reklamasi teluk Benoa seluas 838 Ha dikarenakan akan menambah penderitaan rakyat.

Kadek Suardana, yang merupakan koordinator aksi dalam pernyataan sikapnya menyatakan beberapa tuntutan antara lain “kami komponen masyarakat Bali yang tergabung di dalam Komite Kerja Advokasi Lingkungan Hidup (KEKAL) Bali menyatakan Menolak reklamasi Teluk Benoa, Menuntut Gubernur untuk mencabut SK reklamasi, menolak pengkavlingan dan perampasan sumber-suumber kehidupan rakyat di teluk Benoa, mendesak Gubernur untuk segera minta maaf kepada rakyat Bali karena telah melakukan kebohongan public atas keluarnya SK, menuntut Gubernur untuk konsisten dan melaksanakan Surat Edaran moratorium Izin Akomodasi Pariwisata di Bali Selatan yang dibuatnya sendiri” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Era Sukmayanti, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menyatakan menolak rencana reklamasi dan menginginkan pencabutan SK yang dikeluarkan oleh Gubernur. “masyarakat harus sadar bahwa kita berkewajiban menjaga kelestarian pulau Bali sampai kapanpun. Reklamasi  untuk membangun akomodasi wisata dan berbagi fasilitas pendukungnya berpotensi besar merugikan nelayan dan rakyat Bali pada umumnya. Reklamasi ini juga akan menyebabkan wilayah tangkap nelayan di Teluk Benoa hilang. Mengijinkan reklamasi Teluk Benoa adalah menyerahkan masa depan Bali kepada investor. ” ungkapnya.

Sementara itu Jerink, penggebuk drum band Superman Is Dead (SID) menyatakan bahwa  “Saya menolak reklamasi karena saya sudah muak dengan pemerintah khususnya gubernur yang terus mengeksploitasi alam Bali khususnya Bali selatan dengan pembangunan akomodasi pariwisatanya. Mulai dari rencana pembangunan Bali International Park (BIP), pembangunan Jalan Diatas Perairan (JDP) dan sekarang rencana reklamasi teluk Benoa. Sampai kapan generasi muda akan terus dibohongi oleh manusia-manusia ini, semoga manusia-manusia ini cepat sadar atau segera diganti” ungkapnya.

Jerink menambahkan bahwa aksi ini adalah bentuk nyata Superman Is Dead (SID) untuk memberi contoh kepada generasi muda, bahwa kita harus lebih peduli kepada lingkungan. Ia berharap agar generasi muda semakin banyak yang memperjuangkan kelestarian alamnya. Ini rumah kita, ini tanah kita, jangan mau menjadi budak di tanah sendiri.

Aksi berjalan dengan lancar dan damai dikawal dan mendapat penjagaan dari aparat, aksi pagi itu diakhiri dengan kembali berjalan kaki sambil meneriakan yel-yel penolakan reklamasi kemudian membubarkan aksi. (Gun)

Kamis, 20 Juni 2013

ARDHAM Gelar Aksi Tolak Kenaikan BBM

Aliansi Rakyat Untuk Demokrasi dan HAM (ARDHAM) yang terdiri dari gabungan organisasi , Kamis (20/6/2013) sore menggelar aksi penolakan kenaikan harga BBM. Aksi gabungan ini diikuti dari perwakilan BEM PM Unud, BEM UNHI, PPMI DK Bali, Frontier Bali, FMN Denpasar, GMNI, GMKI, LBH Bali, LMND dan berbagai organisai lainnya. Mereka menggelar aksi di depan Kampus Udayana dilanjutkan dengan long march menuju bundaran Pasar Sanglah Denpasar.

Aksi yang diikuti puluhan mahasiswa ini dimulai dengan melakukan aksi di depan Kampus UNUD, Jalan Sudirman, Denpasar.  Mereka menolak kenaikan harga BBM dikarenakan akan menambah penderitaan rakyat. Dalam aksi itu mereka membawa berbagai atribut mulai dari spanduk, poster, dan lain-lain. Disana para mahasiswa menggelar orasi dan aksi teatrikal yang menggambarkan rakyat yang sengsara dan menderita karena kenaikan harga BBM. 

Selanjutnya aksi dilanjutkan dengan jalan kaki menuju bundaran Pasar Sanglah, aksi long march ini mereka lakukan sambil meneriakkan yel-yel penolakan atas kebijakan menaikkan harga BBM. Di depan Pasar Sanglah para mahasiswa kembali melakukan orasi dan membagi-bagikan selebaran penolakan mereka atas kenaikan harga BBM kepada para pengguna jalan termasuk pengunjung pasar.

Dewangga, yang merupakan koordinator aksi dalam pernyataan sikapnya menyatakan “kami menolak kenaikan BBM dan kebijakan BLSM, menurunkan harga sembako, mewujudkan azas efektivitas, efisiensi dan transparansi APBN, menuntut pencabutan undang-undang migas, meningkatkan kinerja BUMN dan tindak tindak tegas oknum peyelundup BBM” ungkapnya.

Aksi berjalan dengan lancar dan damai, aksi sore itu diakhiri dengan kembali berjalan kaki sambil meneriakan yel-yel penolakan kenaikan BBM menuju kampus UNUD, jalan Sudirman. Untuk menjaga ketertiban lalu lintas, aksi dikawal dan mendapat penjagaan dari aparat.(Gun)

Senin, 22 April 2013

Sejarah dan Refleksi Hari Buku Sedunia



World Book Day yang dirancang oleh UNESCO adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Indonesia pertama kali melaksanakannya di tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum. Pada awalnya adalah bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia sejak abad pertengahan dimana para pria memberikan mawar kepada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku memengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada 23 April.

Hingga itu sejak tahun 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar. Pada tahun 1995, Konferensi Umum UNESCO di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day berdasar keberadaan Festival Katalonia serta pada tanggal tersebut, Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla meninggal dunia sedangkan Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejo and Halldór Laxness dilahirkan. Walaupun pada kasus Shakespeare dan Cervantes ada sedikit perbedaan karena masing–masing meninggal dihitung dengan sistem kalender yang berbeda dimana pada masa itu Inggris masih mempergunakan sistem Kalender Julian sedangkan Katalonia mempergunakan sistem Kalender Gregorian. Perayaan ini merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan serta komunitas–komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri dan meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan.

Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day sebagai sebuah world event adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak–anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca. Acara–acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, diantaranya ada ‘Hari Buku Nasional’, ‘Hari Kunjungan Perpustakaan’ sampai berbagai pameran dan bazaar buku (book fair) di tingkat lokal maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan buku dan literasi di tengah masyarakat Indonesia.

Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang berkonsentrasi di aktivitas literasi, berupaya membuka ruang partisipasi seluas–luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya baca. Setelah sukses dengan World Book Day yang diadakan pertama kalinya di Indonesia pada tahun 2006 di Plasa Depdiknas dan Perpustakaan Diknas, Senayan, Jakarta, dan banyaknya permintaan dari komunitas literasi, lembaga, penerbit buku dan masyarakat umum maka di tahun 2007, Forum Indonesia Membaca, dengan mengambil tema ‘Buku untuk Perubahan’, berusaha merealisasikan kembali pelaksanaan World Book Day di Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang tujuannya untuk merayakan buku dan literasi, dimana acara World Book Day membuka partisipasi masyarakat sebesar– besarnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan itu sendiri, baik itu terlibat sebagai pembicara, pengisi acara, peserta, maupun sebagai pengunjung. Kegiatan selama penyelenggaraan World Book Day 2007 ini ditujukan untuk memunculkan wacana di masyarakat akan pentingnya buku, dunia membaca dan menulis sehingga muncul kesadaran di masyarakat untuk menggunakan literasi sebagai media perubahan dalam kehidupannya.

Refleksi Hari Buku Sedunia

Setiap tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku sedunia. Hal ini memberi makna bahwa buku sedemikian penting bagi hidup dan kehidupan manusia.  Buku merupakan jantung hidup dan kehidupan manusia.  Buku adalah teman, sahabat dan fakta yang tak pernah berdusta. Ia menginformasikan apa adanya. Ia selalu setia menemani kita dalam memerlukan informasi, fakta dan data. Ia selalu memberikan informasi, inspirasi dan fakta yang selalu dapat membantu kita menemukan berbagai keperluan dan memecahkan berbagai persoalan yang kita hadapi.

Itulah buku ia merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Berbagai peradaban besar tumbuh dan berkembang tidak lain adalah pengaruh dari suatu buku. Buku mampu menggerakan instuisi, inspirasi dan kreativitas manusia untuk menembus batas-batas belenggu kehidupan.  Orang bisa saja fisiknya dijajah atau dipenjara, namun pikiran dan idenya yang tertuang dalam buku mampu menggerakkan perubahan besar.  Buku mampu menjadi medium silaturahim, medium transformasi dan jejaringan sosial yang kemudian mampu melahirkan sikap, komitmen dan gerakan untuk melakukan perubahan.

Begitulah pentingnya buku. Oleh karena itu, tidaklah heran jika buku Lembaran Kerja Siswa (LKS) Bang Maman dan istri simpanan diprotes oleh para orangtua. Karena isinya, selain tidak sesuai dengan tingkat dan pemahaman siswa, juga dikhawatirkan akan mempengaruhi cara pikir dan pandang siswa terhadap sesuatu atau apa yang dibacanya. Konsep atau ide yang dibaca atau dipahami salah oleh seseorang akan berakibat pada cara pandang dan aplikasinya terhadap konsep itupun salah.  Contohnya, teroris yang sering diidentikkan dengan Islam, maka sebagian besar orang Barat mengangab Islam adalah sumber teroris. Padahal, soal kekerasan semua agama memiliki potensi yang sama. Namun, karena pengaruh buku, informasi dan berita yang disiarkan secara terus menerus, kemudian mempengaruhi cara pandang sesorang terhadap apa yang dibacanya.

Demikian juga, pada masa orde Baru banyak buku dan pengarang yang dilarang terbit atau beredar, karena dikhawatirkan akan menimbulkan  ketidaksamaan persepsi antara pemerintah dengan masyarakat terhadap sesuatu kasus seperti kasus G 30 S PKI-misalnya. Hal ini dilakukan, karena informasi yang beredar akan menimbulkan salah persepsi yang kemudian melahirkan kegonjangan social yang berakibat pada disentegritas social, bahkan nasional. Demkianlah, betapa besarnya pengaruh buku terhadap sesuatu persoalan yang terjadi atau yang akan terjadi. Ia merupakan sumber infirasi bagi suatu perubahan dan peradaban.

Namun demikian, buku juga seringkali dianggab sesuatu yang kurang bermakna. Buku adalah sesuatu yang kurang mendapat tempat dalam hidup dan kehidupan manusia. Ia hanya dipandang sebagai pelengkap dari sekian peralatan hidup lainya. Orang akan lebih tertarik membeli TV, DVD, Ladtop, Komputer, ketimbang membeli buku. Orangtua akan lebih suka membawa anaknya ke supermarket, Mall dan tempat rekreasi, ketimbang ke toko buku. Dalam perayaan ulang Tahun, jarang sekali orang memberikan hadiah dalam bentuk buku. Apalagi dalam kegiatan acara mantenan misalnya, orang yang membawa kado dalam bentuk buku dianggap kurang gaul atau dianggap tidak mengerti akan makna undangan yang dilayangkan.

Begitulah buku dalam kehidupan kita. Ia dianggap penting, namun perlakuannya kurang selaras dengan arti yang sebenarnya. Buku masih dianggap kebutuhan tersier, bukan kebutuhan primer. Hal ini bukan saja berlaku bagi orang awam.Namun juga berlaku bagi para guru , dosen  pelajar dan kaum birokrat itu sendiri. Penulis pernah melakukan survey terhadap penggunaan dana kesejahteraan guru yang diberikan pemerintah kepada para guru di Kabupaten Natuna.

Dalam survey itu, buku merupakan urutan terakhir, daftar barang atau hal yang akan dibeli. Padahal jelas buku sangat penting bagi seorang guru, untuk meningkatkan kompetensinya. Namun ia lebih mementingkan TV,  Kulkas, Handpon, kipas angin dan sejumlah peralatan yang bersifat konsumtif. Ini merupakan sikap yang kurang tepat jika dilihat dari profesi seorang guru. Mestinya, ia mementingkan buku, ketimbang yang lainnya. Para birokrat pun demikian, coba saja perhatikan cara pandang mereka ketika membicarakan anggaran tentang pustaka sekolah maupun pustaka umum. Dapat dipastikan bukan menjadi priorotas. Dan coba lihat di Kantor mereka,para SKPD sangat sulit kita menemukan sarana perpustakaan yang dapat menunjang kinerja mereka. Padahal mereka punya kewajiban untuk mengelola perputskaan khusus dilingkungan kerja mereka masing-masing.

Di kalangan pelajar lebih parah lagi. Mereka setiap detik, menit dan jam terus menerus melakukan SMS, nelpon dan Facebook melalui Handpon atau BB. Amat jarang mereka membeli apalagi membaca buku. Yang mereka baca adalah SMS yang sama sekali tidak menunjang proses belajar yang mereka hadapi. Para orangtua pun, akan belum merasa puas, jika anaknya tidak memiliki Handpon atau BB. Jarang para orangtua merasa kesal atau marah, jika anaknya tidak memiliki buku baru. Orangtua amat jarang membeli buku untuk anaknya, yang banyak dibeli adalah pakaian, atau mainan alat eliktronik. Demikianlah, terjadi kelirumologi terhadap buku dalam hidupan da kehidupan kita.

Buku sebagai teman, membaca panggilan hidup. Karenanya, tidak berlebihan jika dalam kita memperinngati atau merayakan hari Buku Sedunia tanggal 23 April ini kita berazam untuk menjadikan buku sebagai teman setia dan membaca sebagai panggilan hidup. Inilah makna yang harus kita tanamkan dalam hidup dan kehidupan kita, dalam suasana hari buku sedunia ini.  Yakni menjadikan buku sebagai teman dan membaca panggilan hidup.  Inilah tugas sejarah kita semua, yakni menempatkan buku sejajar dengan teman lainnya dan membaca merupakan bagian dari panggilan hidup kita. Semoga.

sumber :
http://pustakainfo.wordpress.com/2008/03/30/sejarah-hari-buku-sedunia-23-april/
http://www.haluankepri.com/opini-/28085-refleksi-hari-buku-sedunia.html

Minggu, 21 April 2013

Peringatan Hari Bumi, Sebuah Pergerakan Kepedulian Terhadap Lingkungan




Tahukah anda Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April , menandai hari jadi lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan tahun 1970-an. Hari Bumi lahir diprakarsai oleh seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan. Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional.

Perjuangan Gaylord Nelson dimulai sekitar lebih dari 7 tahun sebelum Hari Bumi pertama. Pada awalnya Gaylord berharap pemikirannya tercapai melalui kunjungan yang dilakukan Presiden Kennedy ke-11 negara bagian pada September 1963, namun dengan beberapa alasan kunjungan tersebut tidak mampu membawa isu lingkungan ke dalam agenda nasional. Upaya terus dilakukan Gaylord untuk merealisasikan idenya. Setelah tur Kennedy, Gaylord melakukan kampanyenya sendiri ke beberapa negara bagian. Di seluruh pelosok negara, bukti penurunan kualitas lingkungan terjadi di mana-mana. Semua orang menyadarinya, kecuali kalangan politik.

Akhirnya pada musim panas 1969 Gaylord mengetahui bahwa aksi demonstrasi anti-perang Vietnam telah menyebar secara luas melalui perguruan tinggi di seluruh negeri. Dari sana ia mendapat ide untuk melakukan hal yang sama dalam kempanye lingkungannya. Ia memilih kalangan bawah dalam melakukan aksi protes terhadap kerusakan lingkungan. Pada sebuah konferensi di Seattle September 1969, Gaylord mengumumkan akan mengadakan demonstrasi secara nasional pada musim semi 1970 atas nama lingkungan dan setiap orang diundang untuk berpartisipasi. 

Setelah itu, berbagai surat, telegram, dan telepon mengalir dari seluruh negeri. Warga Amerika akhirnya menemukan sebuah forum untuk mengungkapkan kepeduliannya atas penurunan kualitas tanah, sungai, danau, dan udara di lingkungan mereka. Pada 30 November 1969 New York Times melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kepedulian terhadap lingkungan di seluruh negeri terutama di kampus-kampus dan suatu hari untuk peringatan permasalahan lingkungan tengah dirancang untuk untuk musim semi mendatang yang dikoordinasi oleh Senator Gaylord Nelson. Hal ini menjadi bukti keberhasilan perjuangan Gaylord Nelson dalam mengedepankan isu lingkungan sebagai agenda nasional.

Pada tanggal 22 April 1970, akhirnya sekitar 20 juta warga Amerika turun ke jalanan serta memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengkampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan. Ribuan mahasiswa berkumpul menentang kerusakan lingkungan. Kelompok-kelompok yang sudah sejak lama menentang adanya tumpahan minyak di lingkungan, pabrik-pabrik dan pembangkit listrik penyebab polusi, buruknya saluran pembuangan, pembuangan bahan-bahan berbahaya, pestisida, jalan raya, hilangnya hutan belantara, serta semakin punahnya kehidupan liar menyadari adanya kebersamaan atas perjuangan mereka dari masyarakat.

Hari Bumi pada tahun 1970 telah menghasilkan persatuan kalangan politik yang sebenarnya jarang terjadi, yang berasal dari kaum republik maupun demokrat, dan berbagai pencampuran kalangan lainnya. Hari Bumi pertama menjadi awal terbentuknya United States Environmental Protection Agency/US EPA (sebuah badan perlindungan lingkungan Amerika) dan juga sebagai langkah awal menuju lingkungan dengan udara dan air yang bersih, serta perlindungan terhadap mahkluk hidup.

Pada tahun 1990, peringatan Hari Bumi mulai berkembang secara global. Sekitar 200 juta orang dari 141 negara di dunia tergerak untuk mengangkat isu lingkungan dalam skala global. Hari Bumi 1990 pun menjadi titik tolak terlaksananya KTT Bumi 1992 di Rio de Janeiro.

Tahun 2000 Hari Bumi mendapat bantuan dengan adanya internet untuk menghubungkan para aktivis di seluruh dunia. Pada tanggal 22 April sekitar 5000 kelompok pemerhati lingkungan di seluruh dunia merangkul ratusan juta penduduk di 184 negara yang menjadi rekor baru untuk Hari Bumi yang diperingati pada tanggal 22 April setiap tahunnya menandai hari jadi lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan pada tahun 1970. Hari Bumi lahir atas prakarsa seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan. Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional.

Berbagai kegiatan diselenggarakan secara bervariasi mulai dari rantaian suara genderang dari desa ke desa di Gabon, Afrika hingga ratusan ribu warga yang berkumpul di National Mall, Washington D.C., Amerika Serikat. Hari Bumi 2000 secara keras dan jelas menyerukan pesan bahwa penduduk dunia menginginkan tindakan yang cepat dan tegas untuk penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Di tahun 2013 ini, dalam rangka memperinganti Hari Bumi, tidak ada salahnya kalau manusia yang ada di bumi ini harus “santun” terhadap alam, bisa juga kelangsungan hidup umat manusia tergantung pada “kesantunan” kita pada alam, kita harus bisa membaca dan memahami isyaratnya. Pemanasan global dan kelangkaan pangan adalah salah satu isyarat bagi manusia agar kita “santun” terhadap alam, merawat bumi dengan cara memberi “nutrisi” pada bumi merupakan salah satu contohnya.

Rabu, 26 Desember 2012

Pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda

Pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda adalah peristiwa di mana Belanda akhirnya mengakui bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus 1945 sesuai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan tanggal 27 Desember 1949 saat soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.
Pengakuan ini baru dilakukan pada 16 Agustus 2005, sehari sebelum peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot dalam pidato resminya di Gedung Deplu. Pada kesempatan itu, Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menlu Hassan Wirajuda. Keesokan harinya, Bot juga menghadiri Upacara Kenegaraan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta. Langkah Bot ini mendobrak tabu dan merupakan yang pertama kali dalam sejarah.
Pada 4 September 2008, juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Perdana Menteri Belanda, Jan Peter Balkenende, menghadiri Peringatan HUT Kemerdekaan RI. Balkenende menghadiri resepsi diplomatik HUT Kemerdekaan RI ke-63 yang digelar oleh KBRI Belanda di Wisma Duta, Den Haag. Kehadirannya didampingi oleh para menteri utama Kabinet Balkenende IV, antara lain Menteri Luar Negeri Maxime Jacques Marcel Verhagen, Menteri Hukum Ernst Hirsch Ballin, Menteri Pertahanan Eimert van Middelkoop, dan para pejabat tinggi kementerian luar negeri, parlemen, serta para mantan Duta Besar Belanda untuk Indonesia.
Selama hampir 60 tahun, Belanda tidak bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949, yaitu ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (agresi militer) pada 1945-1949 adalah ilegal.
Sebelumnya, pada tahun 1995, Ratu Beatrix sempat ingin menghadiri Peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-50. Tapi keinginan ini ditentang PM Wim Kok. Akhirnya Beatrix terpaksa mampir di Singapura dan baru memasuki Indonesia beberapa hari setelah peringatan proklamasi.

Pernyataan Pemerintah Belanda di Den Haag

Menlu Ben Bot menegaskan, kehadirannya pada upacara Hari Ulang Tahun RI ke-60 dapat dilihat sebagai penerimaan politik dan moral bahwa Indonesia merdeka pada 17-8-1945. Atas nama Belanda, ia juga meminta maaf.
Menlu Belanda Bernard Bot menyampaikan hal itu dalam upacara peringatan berakhirnya pendudukan Jepang di Hindia Belanda, hari Senin 15 Agustus 2005 di kompleks Monumen Hindia, Den Haag. Pernyataan Bot itu juga disaksikan Ratu Beatrix, yang hadir meletakkan karangan bunga.
Bot secara eksplisit mengungkapkan bahwa sikap dan langkahnya tersebut telah mendapat dukungan kabinet. "Saya dengan dukungan kabinet akan menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia de facto telah dimulai 17-8-1945 dan bahwa kita 60 tahun setelah itu, dalam pengertian politik dan moral, telah menerima dengan lapang dada," demikian Bot.
Pengakuan secara resmi soal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 selama ini sulit diterima para veteran, sebab mereka ketika itu setelah tanggal tersebut dikerahkan untuk melakukan Agresi Militer. Baru kemudian pada 27 Desember 1949 penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secara resmi diteken.
Menurut menteri yang lahir pada 21 November 1937 di Batavia (kini Jakarta), itu sikap menerima tanggal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 dalam pengertian moral juga berarti bahwa dirinya ikut mendukung ungkapan penyesalan mengenai perpisahan Indonesia-Belanda yang menyakitkan dan penuh kekerasan. "Hampir 6.000 militer Belanda gugur dalam pertempuran, banyak yang cacat atau menjadi korban trauma psikologis. Akibat pengerahan militer skala besar-besaran, negeri kita juga sepertinya berdiri pada sisi sejarah yang salah. Ini sungguh kurang mengenakkan bagi pihak-pihak yang terlibat," tandas Bot.
Doktor hukum lulusan Harvard Law School itu melukiskan berlikunya pengakuan seputar tanggal kemerdekaan dan hubungan Belanda-Indonesia itu seperti orang mendaki gunung. "Baru setelah seseorang berdiri di puncak gunung, orang dapat melihat mana jalan tersederhana dan tersingkat untuk menuju ke puncak. Hal seperti itu juga berlaku bagi mereka yang terlibat pengambilan keputusan pada tahun 40-an. Baru belakangan terlihat bahwa perpisahan Indonesia-Belanda terlalu berlarut-larut dan dengan diiringi banyak kekerasan militer melebihi seharusnya. Untuk itu saya atas nama pemerintah Belanda akan menyampaikan permohonan maaf di Jakarta," tekad Bot.
"Dalam hal ini saya mengharapkan pengertian dan dukungan dari masyarakat Hindia (angkatan Hindia Belanda), masyarakat Maluku di Belanda dan para veteran Aksi Polisionil," demikian Bot.

Pernyataan Pemerintah Belanda di Jakarta

Selain itu Belanda sesalkan siksa Rakyat Indonesia pasca 17-8-1945, akhirnya mengakui Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Belanda pun mengakui tentaranya telah melakukan penyiksaan terhadap rakyat Indonesia melalui agresi militernya pasca proklamasi.
"Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya atas terjadinya semuanya ini," begitulah kata Menlu Bernard Bot dalam pidato resminya kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Menlu Hassan Wirajuda, di ruang Nusantara, Gedung Deplu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat. "Fakta adanya aksi militer merupakan kenyataan sangat pahit bagi rakyat Indonesia. Atas nama pemerintah Belanda saya ingin menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya atas semua penderitaan ini," kata Menlu Belanda Bernard Bot kepada wartawan dalam pidato kenegaraan tersebut, hari Selasa 16 Agustus 2005.
Bot tidak menyampaikan permintaan maaf secara langsung, hanya berupa bentuk penyesalan. Ketika ditanya mengenai hal ini, Bot menjawab diplomatis. "Ini masalah sensitif bagi kedua negara. Pernyataan ini merupakan bentuk penyesalan yang mendalam. Kami yakin pemerintah Indonesia dapat memahami artinya," kilah Bot.
Bot mengakui, kehadiran dirinya merupakan pertama kali sejak 60 tahun lalu di mana seorang kabinet Belanda hadir dalam perayaan kemerdekaan. "Dengan kehadiran saya ini, pemerintah Belanda secara politik dan moral telah menerima proklamasi yaitu tanggal RI menyatakan kemerdekaannya," tukas pria kelahiran Batavia (Jakarta) ini.
Pasca proklamasi, lanjut Bot, agresi militer Belanda telah menghilangkan nyawa rakyat Indonesia dalam jumlah sangat besar. Bot berharap, meski kenangan tersebut tidak pernah hilang dari ingatan rakyat Indonesia, jangan sampai hal tersebut menjadi penghalang rekonsiliasi antara Indonesia dan Belanda.
Meski menyesali penjajahan itu, Belanda tidak secara resmi menyatakan permintaan maaf. Indonesia pun tidak secara resmi menyatakan memaafkan Belanda atas tiga setengah abad penjajahannya.
Pidato ini dilakukan dalam rangka pesan dari pemerintah Belanda terkait peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 RI. Turut hadir Menlu Hassan Wirajuda, Jubir Deplu Marty Natalegawa, dan sejumlah mantan Menlu. Dari pihak Belanda, hadir Dubes Belanda untuk Indonesia dan disaksikan para Dubes dari negara-negara sahabat.

Sikap Pemerintah Indonesia

Menlu Hassan pun hanya mengatakan,"Kami menerima pernyataan penyesalan dari pemerintah Belanda". Saat ditanya apakah dengan menerima penyesalan dari pemerintah Belanda berarti Indonesia memaafkan kejahatan Belanda semasa penjajahan dulu, Hassan tidak membenarkan dan tidak membantahnya. "Kita sudah dengar sendiri dari Menlu Bot. Ini adalah pernyataan yang sensitif. Di Belanda pun untuk menyatakan penyesalan ini menjadi perdebatan sejumlah pihak. Kita harus menghargai sikap Belanda," tutur Hassan.
Acara yang dimulai pukul 19.30 ini berakhir pada pukul 20.15 WIB. Usai menyampaikan pidatonya, kedua Menlu ini saling memotong tumpengan nasi kuning sebagai tanda dimulainya babak baru hubungan Indonesia dan Belanda.

Sumber: 

Senin, 29 Oktober 2012

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) PPMI DK Denpasar



(Denpasar.29/10/12) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota Denpasar (PPMI DK Denpasar) kemarin sore 28 oktober 2012 mengakhiri kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD). Kegiatan ini diadakan selama 2 hari dari tanggal 27-28 oktober 2012 di Ashram Gandhi Puri, Desa PakseBali Kabupaten Klungkung. Kegiatan PJTD ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang jurnalistik bagi para anggota PPMI DK Denpasar itu sendiri, selain itu pelatihan ini juga menandai kebangkitan PPMI DK Denpasar yang sempat vakum beberapa tahun yang lalu.

Pada hari pertama pelatihan seluruh peserta diberikan beberapa materi, “materi yang diberikan antara lain tentang organisasi PPMI DK Denpasar, 9 elemen jurnalistik, 7 kriteria sumber anonim, teknik penulisan berita dan jenis berita,  teknik reportase dan wawancara, TOR (term of reference), dan manajemen redaksi. Pematerinya dalam pelatihan ini adalah I Wayan Widyantara (Sekjen PPMI DK Denpasar), Richi P Anyan (Dewan Etik Nasional/DEN) PPMI, dan Abdul Haris ( Alumni PPMI DK Denpasar, LPM Maestro Fak.Teknik UNUD).
  
Berbeda dengan hari pertama, pada hari kedua pelatihan seluruh peserta dan panitia PJTD melakukan tracking bersama. Kegiatan tracking ini dilakukan semata-mata hanya untuk olahraga pagi sekaligus refreshing untuk peserta dan panitia setelah satu hari kemarin disibukan dengan materi pelatihan. Kegiatan ini dimulai dengan start menuruni bukit dari halaman belakang Ashram Gandhi Puri, sampai di bawah menyebrangi sungai kemudian mendaki bukit hingga sampai di Desa Tohjiwa. Dari sana seluruh peserta dan panitia berjalan menyusuri jalan raya untuk kembali lagi ke Ashram Gandhi Puri mengikuti agenda pelatihan.” ujar Maya Agrevina selaku ketua panitia PJTD. .

Ia juga menambahkan bahwa selain penyajian materi, pada pelatihan ini peserta juga diberikan tugas reportase dan menulis berita straight news atau soft news. Peserta diberikan waktu selama 30 menit untuk mewawancarai narasumber, kemudian informasi yang telah terkumpul dirangkai untuk menjadi sebuah tulisan sesuai dengan petunjuk tugas di awal. Setelah tulisan selesai, seluruh peserta membacakan dan saling memberikan komentar terhadap tulisan masing-masing  secara bergantian.

“Kegiatan PJTD ini targetnya adalah semua peserta memahami pengetahuan dasar jurnalistik, selain itu setelah pelatihan ini diharapkan seluruh peserta sudah bisa menulis berita straight news atau soft news. Pelatihan ini juga berfungsi untuk proses kaderisasi, merekrut anggota baru di masing-masing LPM yang tentu saja akan melanjutkan eksistensi PPMI DK Denpasar itu sendiri ” ujar Sekjen PPMI DK Denpasar menambahkan sembari foto bersama yang menandai berakhirnya kegiatan pelatihan. (Gun)


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting