Minggu, 02 Maret 2014

HMPWK : KONGRES III-2014

Jumat kemarin (28/2) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HMPWK) Fakultas Teknik (FT) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) menyelenggarakan Kongres III-2014. Acara yang diadakan di Aula Pasca Sarjana UNHI ini digelar dengan serangkaian serah terima jabatan Ketua HMPWK Periode 2014-2015 yang telah terpilih dan pengesahan AD/ART Himpunan. Acara ini dihadiri oleh segenap civitas akademika UNHI di antaranya yaitu kaprodi, beberapa dosen PWK, wakil dekan 2 FT, anggota HMPWK dan dekan FT yang sekaligus membuka acara kongres tahunan III ini.
Sesuai dengan AD/ART HMPWK UNHI, kongres tahunan ini memiliki kedudukan tertinggi dalam organisasi ini. Seperti dikonfirmasi oleh Bagus Nugraha Kurnia Sentosa selaku salah seorang pengurus HMPWK periode 2013-2014 bahwa pada Kongres ini akan ditetapkan ketua HMPWK yang baru terpilih saat pemilu, pengesahan dan pengevaluasian AD/ART dan pengesahan laporan pertanggungjawaban dari pengurus HMPWK UNHI.
Acara Kongres tahunan yang ke-3 HMPWK "Pranatacara Bumandhala" ini dimulai dengan acara pembukaan berupa laporan Ketua Panitia dan sambutan-sambutan. Dilanjutkan dengan sidang pembuka berupa pembahasan dan jadwal acara serta tata tertib. Selain itu juga dilaksanakan pembahasan dan pengesahan pimpinan sidang tetap.
Dalam acara ini diadakan 4 kali sidang pleno yang di antaranya sidang pleno I dengan agenda penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus HMPWK 'Pranatacara Bumandala' UNHI periode 2013-2014. Dilanjutkan dengan sidang pleno II dalam pembahasan dan pengesahan AD/ART. Setelah istirahat makan siang, sidang dilanjutkan dengan sidang pleno III dengan agenda pengesahan Ketua dan Pengurus HMPWK 'Pranatacara Bumandala' UNHI masa bhakti periode 2014-2015. Acara terakhir pada Kongres III-2014 ini yaitu sidang pleno IV dengan penyampaian hasil Kongres III HMPWK UNHI serta ditutup oleh Ni Kadek Maydayanti selaku pimpinan sidang.
Acara Kongres ini didasari oleh masa jabatan ketua dan pengurus HMPWK periode 2013-2014 telah usai. Sehingga diadakan Pemilihan Umum untuk mencari ketua HMPWK untuk periode 2014-2015. Adapun rangkaian pemilu tersebut yaitu acara kampanye, pemilu, dan diakhiri dengan acara Kongres. "Pada acara Kongres inilah ketua HMPWK yang baru akan dilantik. Dari hasil pemilu kemarin telah terpilih I Putu Gede Nova Wijana sebagai Ketua HMPWK untuk periode 2014-2015 mendatang," papar mahasiswa angkatan 2012 ini.
Kongres III-2014 mengambil tema "Membangun Karakter, Kreativitas dan Solidaritas" atas dasar pelaksanaannya yang penuh dengan semangat. Walaupun sempat terhalang beberapa masalah seperti kekurangan dana dan sedikitnya mahasiswa PWK, namun hal tersebut dapat teratasi dengan baik. "Pemilu dan Kongres kali ini dapat dikatakan berjalan dengan lancar meskipun masih terdapat beberapa hal yang harus dikoreksi ke depannya," ujar mahasiswa yang biasa disapa Nugie ini.
"Untuk ke depannya, kami berharap HMPWK tetap dapat membuat acara yang tidak hanya sukses namun juga mampu bersaing dengan organisasi bergengsi lainnya," harapnya.

Senin, 03 Februari 2014

SEMINAR NASIONAL: SERANGKAIAN HUT FPAS KE-5


            Hari Senin (03/02/2014), Fakultas Pendidikan Agama dan Seni (FPAS) di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) mengadakan Seminar Nasional. Acara ini dilaksanakan di Aula Rektorat lantai III UNHI Denpasar. Dalam acara ini mengundang Ketua DPD HPI Bali Sang Putu Subaya, SH.MH., Drs. Ida Bagus Subhiksu, MM selaku Kepala Dinas Provinsi Bali yang pada saat kesempatan ini diwakilkan, para Dekan di lingkungan UNHI Denpasar, para Dosen di lingkungan UNHI Denpasar, dan peserta Seminar yang merupakan mahasiswa dari berbagai Fakultas di UNHI.
            Seminar Nasional dengan tema “Pariwisata Budaya dalam Konteks Pendidikan Agama dan Seni” ini dilaksanakan serangkaian dengan HUT FPAS pada tanggal 28 Februari. Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan pembacaan doa. Dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia dan sambutan dari Dekan FPAS yang pada kesempatan ini mewakili Rektor UNHI. Pada Seminar kali ini diisi oleh 2 pemakalah yaitu dari Dinas Pariwisata Daerah Bali dan Ketua DPD HPI Provinsi Bali. Seminar Nasional ini diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan kepada Narasumber.
            Seperti yang telah diungkapkan oleh I Nyoman Pasek Supartha sebagai salah seorang panitia pelaksana bahwa walaupun sempat terlambat dari waktu awal yang telah ditentukan, namun acara ini berlangsung lancar dan dapat dikendalikan dengan baik. “Keterlambatan tersebut terjadi dikarenakan kampus dalam masa libur semester, sehingga banyak mahasiswa yang terlambat datang. Menurut saya seminar ini berdampak positif bagi mahasiswa yang nantinya akan terjun ke masyarakat dan dapat tetap menjaga pariwisata yang berlandaskan budaya dan bukan menjadi pariwisata yang merusak budaya,” tutur mahasiswa prodi pendidikan agama Hindu ini. (yun/nd)

Rabu, 15 Januari 2014

Pelantikan Rektor UNHI Denpasar Masa Bhakti 2014-2018

Dr. Ida Bagus Dharmika, MA saat memberikan sambutan sebagai rektor UNHI

Hari Rabu kemarin (15/01/2014), Universitas Hindu Indonesia (UNHI) mengadakan acara pelantikan Rektor masa bhakti 2014-2018. Pelantikan Rektor ini dilaksanakan di Aula Rektorat Lantai III UNHI Denpasar. Acara ini dihadiri oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu, Koordinator Kopertis wilayah VIII, Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Ketua Parisadha Hindu Indonesia (PHDI) Pusat, Ketua Senat dan anggota Senat UNHI Denpasar, Rektor UNHI sebelumnya sekaligus Rektor terpilih, para Pejabat UNHI Denpasar, beserta segenap civitas akademika UNHI Denpasar.

Dr. Ida Bagus Dharmika, MA yang merupakan Rektor sebelumnya akhirnya terpilih menjadi Rektor UNHI Denpasar untuk masa bhakti 2014-2018 setelah mengungguli 3 bakal calon Rektor lainnya. Beliau mendapat 17 suara dari 30 anggota Senat UNHI Denpasar.

Pelantikan Rektor UNHI oleh Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi

Sebelum dilantik, Dr Ida Bagus Dharmika, MA menjalani upacara mejaya-jaya di Pura Maha Widya Mandhira UNHI Denpasar yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Yoga. Selanjutnya acara pelantikan dilaksanakan di Aula Rektorat Lantai III UNHI Denpasar dengan diawali oleh pemujaan Ida Pedanda Gede Putra Yoga. Setelah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lagu mengheningkan cipta, serta lagu Mars UNHI dilanjutkan dengan pembacaan sloka.

Acara berlanjut dengan laporan Ketua Panitia, Prof. Dr. Ir. Redy Aryantha serta pembacaan Surat Keputusan (SK) mengenai pemberhentian dan pengangkatan Rektor UNHI Denpasar. Acara puncak yaitu upacara pelantikan Rektor UNHI Denpasar oleh Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Prof. IB Gunada disertai dengan penandatanganan dokumen.

Setelah acara puncak, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari Rektor UNHI Denpasar, ketua Yayasan Widya Kerthi, Koordinator Kopertis wilayah VIII, Ketua PHDI Pusat, dan Dirjen Bimas Hindu. Acara bergulir pada penyerahan buku dan pembacaan doa. Rangkaian acara pelantikan Rektor UNHI Denpasar masa bhakti 2014-2018 diakhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada Dr Ida Bagus Dharmika, MA beserta istrinya.


Sebagai rektor ke IX, beliau menyatakan akan membawa UNHI menjadi Universitas yang unggul baik secara Nasional maupun Internasional. “Saya akan berusaha membawa UNHI unggul dalam bidang akademik, dalam bidang pengabdian, dan bidang penelitian. Harapan saya mudah-mudahan tahun ke depannya UNHI lebih bermutu dari tahun sebelumnya,” paparnya. (yun/iap)

Jumat, 10 Januari 2014

APEL AKBAR: SIMBOLIS PENYERAHAN ANGGOTA MENWA


Hari Jumat kemarin (10/01/14), Komando Resimen Mahasiswa (Menwa) Ugracena satuan D-903/Pasung Grigis Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar mengadakan Apel Angkatan Baru (Akbar). Apel Akbar yang dilaksanakan di Lapangan UNHI Denpasar ini dilakukan dalam rangka penyerahan anggota Menwa Angkatan XXVIII dari Ugracena kepada UNHI Denpasar. Acara ini dihadiri oleh staff komando Menwa, Menwa dari seluruh Bali, dan segenap civitas akademika UNHI Denpasar.

Apel Akbar dilaksanakan atas 3 dasar yaitu yang pertama, surat keputusan bersama Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Dalam Negeri dan Otomoni Daerah Nomor: 14/M/KB/2000, Nomor: U/KB/2000 dan Nomor: 39 A Tahun 2000, tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Resimen Mahasiswa. Yang kedua, surat keputusan No: 311/SKP/UNHI/V/2013 tentang kepengurusan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Menwa Satuan D-903/Pasung Grigis UNHI Denpasar periode 2013-2014. Yang ketiga, hasil rapat Komandan satuan beserta Staf tanggal 2 Januari 2014, tentang Apel Akbar dan Lapantrapos Satuan D-903/Pasung Grigis UNHI Denpasar 2013-2014.

Apel Akbar ini wajib diadakan oleh masing-masing Menwa Satuan tiap tahun walaupun sempat tidak terlaksana pada tahun sebelumnya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Ni Kadek Maydayanti selaku Komandan Satuan (Dansat) Menwa UNHI Denpasar bahwa Apel Akbar ini dilakukan kembali agar sistem Menwa dapat diperbaiki dari sebelumnya. “Apel Akbar kali ini dapat dilaksanakan setelah anggota Menwa Angkatan XXVIII ini lulus dari Pra Pendidikan Latihan Dasar Kemiliteran (PRADIKLATSARMIL), Pendidikan Latihan Dasar Kemiliteran (DIKLATSARMIL), dan PEMBARETAN. Apel Akbar ini juga sebagai simbolis penyerahan anggota Menwa Angkatan XXVIII dari Komandan Menwa (Danmenwa) Ugracena kepada Rektor UNHI Denpasar yang sebelumnya masih milik Ugracena se-Bali. Jadi, Apel Akbar ini dilakukan untuk mengikuti sistem Menwa yang sudah semestinya,” jelas perempuan berumur 20 tahun ini.

Dengan bergabungnya 11 anggota Menwa Angkatan XXVIII ini, jumlah keseluruhan Menwa UNHI menjadi 32 anggota. Dalam Apel Akbar ini 11 anggota tersebut resmi diserahkan kepada UNHI namun mereka belum resmi menjadi Menwa UNHI itu sendiri. “Masih ada tradisi yang harus mereka lewati untuk menjadi Menwa UNHI secara resmi yaitu Latihan Pemantapan dan Tradisi Pemoskoan (Lapantrapos). Lapantrapos ini akan dibuka pada hari Sabtu tanggal 11 Januari 2014 dan akan berlangsung selama 3 hari sampai mendapatkan Brevet satuan untuk dikatakan resmi menjadi Menwa UNHI,” papar mahasiswi Fakultas Teknik ini.

Walaupun terlambat setengah jam dari waktu awal yang ditentukan, namun acara berlangsung khidmat dan berjalan sesuai dengan susunan upacara yang telah dibuat sebelumnya. Acara ini dihadiri oleh Staff Komandan Menwa seperti Wakil Komandan Menwa (Wadanmenwa) Ugracena Bali; seluruh Menwa di Bali seperti Menwa Undiknas, Menwa IKIP-PGRI, Menwa UNUD, Menwa IHDN, dan lainnya; serta segenap civitas akademika UNHI Denpasar seperti Pembina UKM Menwa Ugracena D-903/Pasung Grigis UNHI Denpasar, Wakil Rektor III UNHI Denpasar, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNHI Denpasar, beberapa Senat Mahasiswa UNHI Denpasar.

Apel Akbar ini memang sengaja dipilih untuk dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2014 atas dasar rapat Komandan satuan beserta staffnya tanggal 2 Januari 2014. “Kami memilih hari Jumat yang merupakan hari efektif dalam hal perkuliahan dengan tujuan agar mahasiswa UNHI Denpasar juga mengetahui apa itu Menwa sebenarnya beserta jumlah Menwa saat ini walaupun kami sayangkan anggota Menwa UNHI Denpasar tidak semuanya yang bisa hadir,” jelasnya.

Pada akhir acara mereka menampilkan acara tambahan yaitu Bela Diri Militer (BDM). “Di Menwa kami juga belajar bela diri walaupun yang ditampilkan dalam acara Apel Akbar ini masih dasar-dasarnya saja. BDM sendiri kami tampilkan hanya untuk selingan saja agar suasana tidak terlalu tegang,” ungkap mahasiswi prodi Teknik Planologi ini.


“Menurut saya acara hari ini luar biasa dan sukses. Menwa saya lihat semakin kompak dan solid pada acara Apel Akbar ini. Memang banyak kekurangan namun hal tersebut akan kami jadikan pembelajaran untuk ke depannya. Ya, semoga ke depannya anggota Menwa semakin banyak, lebih kompak dan solid serta semakin memperlihatkan eksistensinya di kampus. Tunjukkan bahwa Menwa tidak hanya sangar di mata mahasiswa, tapi kita juga bisa berprestasi dan aktif seperti UKM yang lainnya. Seperti semboyan Menwa yaitu Widya Castrena Dharma Sidha yang artinya penyempurnaan ilmu pengetahuan dengan ilmu keprajuritan. Begitulah yang akan kami terapkan sebagai seorang menwa,” tambahnya. (yun/rin)

Selasa, 07 Januari 2014

Mahasiswa (Bukan) Sapi Perah



“Kami dari BEM mengadakan bazar duduk bekerjasama dengan warung Pencar. Masing-masing mahasiswa membeli satu kupon ini seharga 35 ribu rupiah. Perlu diketahui bahwa kupon bazar ini telah mendapat persetujuan atau rekomendasi dari Wakil Rektor II Universitas Hindu Indonesia.”

Begitulah kata-kata dari salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hindu Indonesia (UNHI) di kelas. Mereka (anggota BEM) hendak menyebarkan kupon bazar kepada para mahasiswa. Dengan berbekal surat rekomendasi dari Rektorat, para anggota BEM memasuki tiap kelas mahasiswa. Menawarkan dan “menjajakan” kupon bazar kepada mahasiswa, harapannya tentu mahasiswa mau membeli kupon bazar tersebut.

Memang tidak ada kata “wajib” membeli yang mereka utarakan, namun pernyataan mereka yang menekankan bahwa bazar ini telah mendapatkan surat rekomendasi dari Rektorat seakan-akan ingin menekan mahasiswa untuk membeli kupon mereka. Mahasiswa diberikan waktu beberapa hari untuk membeli kupon tersebut dengan harga 35.000 rupiah.

Berbagai reaksi dan pertanyaan muncul di benak mahasiswa. Mengapa BEM membuat bazzar? Mungkin saja BEM membuat acara bazar ini untuk penggalangan dana. Tapi kenapa harus mahasiswa yang menjadi “target sasaran” untuk penggalian dana? Lagi-lagi mahasiswa diberatkan akan benda bernama uang tersebut. Tentu saja ini tidak akan menjadi masalah bagi mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Namun, bagaimana dengan mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah?

Rasanya tanpa kupon bazar itu saja, mereka sudah susah untuk mencari uang. Belum lagi anak kos yang berusaha hidup dengan hemat. Kupon bazar ini dirasa akan menambah beban mereka dan bahkan mungkin uang tersebut cukup untuk makan mereka beberapa hari tinggal di kos.

Belum lagi mahasiswa baru yang notabene belum tahu apa-apa masalah kampus. Mereka akan dengan mudah menerima apa saja yang disodorkan kepada mereka tanpa berani untuk menolak. Padahal mahasiswa baru jika dihitung-hitung telah banyak mengeluarkan uang dari awal mereka kuliah di UNHI. Mulai dari uang awal kuliah, uang baju dan kalender untuk fakultas ekonomi, uang bazzar, uang seminar, dan lain-lain. begitu mahalnya biaya pendidikan perguruan tinggi semakin membenarkan pendapat bahwa “orang miskin dilarang untuk sekolah”.

Jika BEM melaksanakan bazzar ini dengan alasan mencari dana untuk kegiatan operasionalnya. Itu sah-sah saja. Tapi hendaknya bukan membebankan pada mahasiswa. “Mahasiswa bukan sapi perah” yang bisa seenaknya diperah dan diambil susunya.

Ada baiknya jika ingin meminta dana untuk operasional harusnya mereka minta kepada “orang tua” di kampus. Ya orang tua yang dimaksud adalah rektorat. Tidak diberikan. Tenang kawan-kawan itu semua sudah diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 155/U/1998 Tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Mari bersama kita perjuangkan dana kemahasiswaan itu.

Dalam Kepmen tersebut pada Bab V tentang Pembiayaan, Pasal 10 ayat 1 menyatakan pembiayaan untuk kegiatan organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi dibebankan pada anggaran perguruan tinggi yang bersangkutan dan/ atau usaha lain seijin pimpinan perguruan tinggi dan dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Dari sana sudah jelas dituliskan, jika organisasi mahasiswa ingin melakukan kegiatan hendaknya mencari dana kepada rektorat. Disana juga sudah dijelaskan bahwa dana kemahasiswaan sudah seharusnya dianggarkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Atau misalnya dana tersebut kurang atau tidak mencukupi, cara lain yang bisa ditempuh adalah mencari dana dari sponsor. Bukankah dalam kepmen tersebut juga dibolehkan untuk mencari dana di luar kampus melalui usaha lain. Intinya dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.



BEM tak ubahnya seperti pemerintah yang memberikan “kado” (kenaikkan harga elpiji 12kg) kepada masyarakat. Begitu juga BEM memberikan “kado tahun baru” berupa bazar kepada mahasiswa. Terakhir, bukan bermaksud menggurui atau memerintah. Ada baiknya untuk kita coba merenung dan berpikir. Tingkat ekonomi mahasiswa di kampus tidak semua sama. Untuk mereka yang menengah ke atas mungkin tidak masalah tapi bagaimana dengan teman-teman yang ekonominya menengah ke bawah. Ingat dan patut di catat mereka juga kawan kita mahasiswa. Syukur mereka (bisa) kuliah, sekarang malah dibebankan ini itu. coba bayangkan, Bagaimana kalau kalian (anggota BEM) berada pada posisi mahasiswa itu. 

Selasa, 10 Desember 2013

Tolak PKL, For Mahasiswa FPAS Pasang Spanduk Penolakan

Spanduk Penolakan PKL di tempat parkir depan gedung Rektorat UNHI
“Tolak PKL. PKL Rekreasi. Mahasiswa bukan sapi perah. Mafia pendidikan.
Dekanku sayang mahasiswaku malang.  Lanjutkan Surat Keputusan (SK) Rektor No.167 yang tidak mewajibkan PKL bagi mahasiswa. stop komersialisasi pendidikan.
Kami siap aksi menolak PKL”

Begitulah kata-kata yang tertulis pada spanduk-spanduk penolakan praktek kerja lapangan (PKL) yang dipasang oleh mahasiswa semester VII Fakultas Pendidikan Agama dan Seni (FPAS) UNHI yang tergabung dalam Forum Mahasiswa FPAS pada Senin (9/12/13). Spanduk dipasang pada dua tempat di lingkungan kampus UNHI, satu spanduk dipasang di depan gedung rektorat UNHI tepatnya di halaman parkir. Sedangkan satu lagi di pasang di gedung FPAS. 

Namun spanduk tersebut tidak bertahan lama. Sekitar pukul 09.00 terlihat pegawai FPAS melepaskan spanduk yang terpasang di gedung FPAS. Sedangkan spanduk satu lagi yang berada di halaman parkir depan rektorat sudah hilang tanpa diketahui siapa yang melepas.

Spanduk Penolakan PKL di Gedung FPAS
Forum Mahasiswa FPAS dalam selebarannya menolak kegiatan PKL karena berkaca pada kegiatan PKL tahun lalu. PKL tidak berjalan sesuai harapan, banyak jadwal kegiatan yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Hal ini juga berdampak pada laporan akhir kegiatan PKL yang terkesan “formalitas”, hal ini disebabkan mahasiswa tidak mendapatkan bahan penelitian yang cukup. Bahkan PKL terkesan hanya kegiatan rekreasi yang tidak bermanfaat dan hasilnya di luar harapan mahasiswa. 

Selain itu mereka mempertanyakan mengapa PKL harus dilaksanakan lagi, bukankah mahasiswa FPAS sudah melakukan praktek mengajar dan kuliah kerja nyata (KKN) sebelumnya.

Ketika hal ini dikonfirmasi ke pihak fakultas, Dekan FPAS dalam keadaan sakit. Sementara itu pihak lainnya di fakultas, baik itu dosen maupun pegawai mengatakan no coment alias tidak bisa dimintai keterangan. (sd, tpg)



Minggu, 08 Desember 2013

Jegeg Bagus UNHI “Terlantar”

 
          UNHI – Kompetisi pemilihan duta tampaknya sudah marak terjadi di berbagai sektor. Jika kita mengenal ajang bergengsi seperti Pemilihan Putri Indonesia, ajang serupa juga sudah merambah ke beberapa sektor seperti pariwisata, bisnis dan pendidikan. Dalam dunia kampus, tampaknya acara serupa menjadi salah satu agenda penting yang dilaksanakan. Hal ini terjadi juga di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar yang mengadakan pemilihan Jegeg Bagus UNHI 2013 belum lama ini.

            Pada perhelatan tersebut, pasangan duta Fakultas Ekonomi (FE) Ni Kadek Desy Natalia dan I Wayan Eka Dharma Putra dinobatkan sebagai Jegeg dan Bagus UNHI 2013 pada malam final “Pemilihan Jegeg Bagus UNHI 2013” di aula kampus setempat, Senin (14/10) malam. Layaknya duta-duta lainnya, icon yang terpilih akan melakukan tugas utama yaitu promosi. Selain itu, kegiatan ini mendukung peran kampus mewujudkan citra layanan pendidikan tinggi Indonesia sebagai sistem yang mampu menghasilkan insan bermartabat, berbudaya dan berkepribadian sehingga menjadi pendorong dalam peningkatan mutu pendidikan dan kebudayaan di Indonesia guna mendorong generasi muda Indonesia untuk terus berprestasi.


            Namun sejak terpilihnya pasangan ini sebagai Jegeg Bagus UNHI 2013, menurut Ni Kadek Desy Natalia belum ada program kerja untuk mereka kecuali diwajibkan mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) yang dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unhi pada tanggal 29 November – 1 Desember 2013 di Ashram Gandhi Puri Klungkung. “Kami rencananya ada program kerja  yaitu mengunjungi panti asuhan dan memberikan sumbangan kepada anak-anak kurang mampu namun jika disetujui dan akan kami coba koordinasikan lagi dengan kak Era (Ketua BEM UNHI),” tambah I Wayan Eka Dharma Putra.

            Perhelatan Jegeg Bagus UNHI 2013 ini tentunya jangan sampai menjadi ajang formalitas semata. Maka haruslah ada program kerja yang jelas untuk 1 tahun ke depan sejak mereka terpilih agar jangan sampai muncul opini bahwa Jegeg Bagus UNHI “terlantar” dikarenakan tidak memiliki program kerja. “Harapan saya, kami mampu mempromosikan kampus keluar wilayah Denpasar karena kampus UNHI belum terkenal di Kabupaten lain. Dari pihak BEM juga saya harap menyiapkan program kerja agar kami tidak menganggur,” papar pria semester 3 program studi akuntansi ini. 

            “Di samping itu, kami juga ingin menunjukkan bahwa mahasiswa yang kuliah sore tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti kegiatan kampus, agar tidak disebut sebagai mahasiswa yang hanya kuliah pulang kuliah pulang (kupu-kupu) walaupun dengan kesibukan kami bekerja di pagi hari,” ungkap wanita yang pernah menjadi Finalis Lomba Olimpiade Akuntansi di Universitas Negeri Malang tahun 2011. 

“Harapan kami juga pemilihan Jegeg Bagus ini diadakan di luar Kegiatan Utsawa Bali Sani (UBS) agar lebih terlihat sebagai hari spesial pemilihan Jegeg Bagus dan pastinya akan menarik antusias mahasiswa agar lebih banyak yang menonton. Jika digabung dengan UBS maka pemilihan Jegeg Bagus tidak terlalu terlihat serta untuk hadiah agar diinformasikan terlebih dahulu guna memotivasi dan memperbanyak jumlah peserta, ” ungkap pasangan duta kampus UNHI ini senada.

Ketika dikonfirmasi dengan BEM UNHI sebagai panitia penyelenggara perhelatan Jegeg Bagus Unhi 2013, Ni Putu Era Sukmayanti selaku Ketua BEM UNHI menyatakan akan mempersiapkan program kerja nanti.“Diawal tahun 2014 kita akan memberikan mereka program kerja, bukan kita yang memberikan, tapi mereka juga mengajukan program kerja mereka agar tidak dibilang BEM yang memerintahkan mereka untuk melakukan program kerja ini, “ ungkap Ketua Bem UNHI ini menegaskan. 

Perihal harapan Pasangan Jegeg Bagus Unhi agar kegiatan ini diadakan di luar Utsawa Bali Sani , Ni Putu Era Sukmayanti juga menyatakan salah satu juri pada saat kegiatan Jegeg Bagus UNHI yaitu Bapak Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag juga menyarankan untuk tahun depan agar Jegeg Bagus UNHI diadakan diluar kegiatan Utsawa Bali Sani. Ia juga mengharapkan agar tahun depan kegiatan ini lebih bagus dari tahun sekarang.


            Banyak cara untuk memperkenalkan kampus, salah satunya melalui pemilihan Jegeg Bagus yang dilakukan oleh UNHI. Sebagai duta kampus, hendaknya disiapkan program kerja seperti mengenalkan kepada mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus, mekanisme layanan, penggunaan sarana yang tersedia serta organisasi kemahasiswaan yang ada. Tidak lupa juga sebagai duta kampus, sebaiknya dilibatkan menjadi penerima tamu saat ada kunjungan dari pihak luar. 

Untuk progam kerja luar kampus bisa melakukan promosi UNHI ke masyarakat melalui event-event universitas, pameran pendidikan, roadshow ke sekolah-sekolah baik di Denpasar maupun di luar Kotamadya Denpasar. Maka dari itu mari kita tunggu bersama program kerja apa yang disiapkan  untuk Jegeg Bagus UNHI 2013 agar mereka mampu memberikan kontribusi yang bermaanfaat bagi kampus selama 1 tahun ke depan. Untuk selanjutnya kita semua berharap agar ajang ini menjadi perhelatan tahunan berkualitas serta melahirkan Jegeg Bagus UNHI yang diharapkan mampu menjadi cerminan bagi mahasiswa lainnya dan jangan sampai hanya menjadi ajang formalitas ataupun ceremonial belaka.(nd/gun)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting