Kamis, 31 Oktober 2013

Kunjungan Komisi VIII DPR-RI ke UNHI dalam Upaya Penegerian UNHI



Penegerian UNHI (Universitas Hindu Indonesia) yang awalnya sempat diisukan batal ternyata sekarang sedang dalam proses. Pasalnya pada Selasa kemarin (29/10/13) UNHI kedatangan tamu penting yaitu anggota komisi VIII DPR-RI dalam agenda pembahasan perubahan status UNHI dari PTS (Perguruan Tinggi Swasta) menjadi  PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Acara ini berlangsung di Aula Lantai III Gedung Rektorat UNHI.

Rombongan anggota Komisi VIII DPR-RI disambut oleh segenap civitas akademika UNHI. Sejumlah penari UNHI mempersembahkan Tari Gabor di lobi gedung Rektorat UNHI sebagai penyambutan untuk para tamu. Hadir pula dalam acara tersebut Ketua PHDI Pusat S.N. Suwisma, Direktur Pendidikan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI IB Subawa dan Direktur Pendidikan Agama Buddha. Dari UNHI hadir antara lain Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi Prof. Dr. IB Gunadha, Rektor UNHI Dr. IB Dharmika, M.A, Wakil Rektor II Dr. A.A Ngurah Sadiartha, WR III Drs. Mertha, M.Pd., para dekan, kaprodi, dosen dan mahasiswa di lingkungan UNHI.

Drs. H. Mahrus Munir
Dalam kunjungan tersebut, Drs. H. Mahrus Munir selaku ketua rombongan Komisi VIII DPR menyatakan bahwa dalam proses penegerian ini, komisi VIII DPR-RI bermitra kerja dengan Kementerian Agama yang membawahi pendidikan Agama salah satunya Universitas Hindu ini. “Kami juga ingin berbagi kesempatan bagi seluruh Agama tanpa terkecuali untuk memiliki Universitas berlandaskan Agama. Selama ini Universitas yang berlandaskan Agama Hindu memang belum ada, maka dari itu saya setuju dengan rencana Penegerian UNHI ini,” paparnya.

“Persyaratan-persyaratan penegerian yang diajukan memang sudah dipenuhi dengan baik. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk Universitas ini tidak segera dinegerikan. Dari segi sarana prasarana yang saya ketahui dari Rektor UNHI sebagian besar memang sudah memenuhi kualifikasi untuk dijadikan PTN. Hal ini saya sampaikan untuk mendorong Kementerian dalam mengambil keputusan jika UNHI sudah memenuhi persyaratan maka segeralah dinegerikan. Jika ditunda terus-menerus, maka pengelola UNHI semangatnya dalam memperjuangkan perubahan status UNHI dari PTS menjadi PTN akan turun,” ungkapnya.

Untuk masalah waktu, belum dapat dipastikan kapan penegerian ini akan sepenuhnya disetujui. Hal ini kembali lagi kepada persyaratan penegerian secara administratif yang telah dipenuhi oleh Universitas tersebut. Maka dari itu, komisi VIII DPR bermaksud akan mendorong Kementerian Agama untuk segera memproses usulan Penegerian ini agar lebih cepat prosesnya.

Prof. Dr. IB Gunadha
Pihak yayasan juga optimis akan penegerian UNHI ini. Terbukti dari pernyataan Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi Prof. Dr. IB Gunadha bahwa ada 2 hal yang menjadi motivasi Beliau dalam memperjuangkan penegerian ini yaitu pernyataan Menteri Agama Surya Dharma Ali pada konferensi pers beberapa waktu lalu dan kunjungan Komisi VIII DPR-RI ke UNHI. Kedua hal tersebut sama-sama mendukung dan mengapresiasi penegerian UNHI sehingga menambah harapan Beliau agar UNHI segera dinegerikan.

UNHI juga memiliki visi dan misi untuk menjadikannya menjadi Universitas ternama tidak hanya secara regional maupun internasional. Untuk itu UNHI sudah melakukan rintisan-rintisan melalui pengadaan kerjasama dengan berbagai Perguruan Tinggi besar di beberapa Negara. Salah satunya yaitu 3 Perguruan Tinggi di India, Frankfut, dan Belanda. Bahkan secara realisasinya UNHI telah mengirim 12 orang dosen yang belajar di Belanda untuk mendapatkan gelar Doctor. Hal ini membuat UNHI memang layak untuk segera dinegerikan agar nantinya para dosen yang telah bergelar Doctor ini mendapatkan kompensasi yang wajar atas keahlian mereka.

Sejauh ini persiapan UNHI untuk menjadi negeri sudah hampir 80% dan menurut persyaratan, UNHI sudah bisa mengajukan akreditasi di tingkat Institut. “Minimal kita bisa mendapatkan akreditasi B dan harapan saya maksimal dapat akreditasi A itu sudah luar biasa,” harapnya. (iap, yun, yul)




Minggu, 27 Oktober 2013

Stand UKM Musik Tidak Hanya Sekedar Bermusik



Utsawa Bali Sani (UBS) merupakan pagelaran yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya di Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Acara ini digelar dalam rangkaian upacara piodalan Pura Maha Widya Mandira UNHI, Dies Natalis & Wisuda yang berlangsung selama bulan Oktober tahun 2013 ini.

Pada pagelaran Utsawa Bali Sani (UBS) yang ke-4 ini, diadakan berbagai perlombaan dan acara pertunjukan kesenian seperti lomba Bapang Barong, lomba Kendang Tunggal, lomba Geguntangan, Gong Suling Gita Semara, dan lain sebagainya. Selain itu, masing-masing fakultas maupun program studi (prodi) serta berbagai organisasi di kampus seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga ikut memeriahkan UBS tahun ini. Mereka berlomba-lomba menunjukan ide-ide kreatif mereka dengan membuka pameran dan beraneka macam stand yang menarik.

Salah satunya yang cukup menarik perhatian adalah UKM Musik UNHI, UKM ini membuka stand yang bertempat di depan gedung rektorat kampus UNHI. Di sana mereka menyediakan makanan,  minuman dan juga live music yang disuguhkan oleh para musisi-musisi muda berbakat yang tergabung di dalam UKM ini.

I Wayan Yogantara selaku ketua UKM Musik menyatakan di UBS tahun ini UKM Musik mengangkat tema “Hanya UKM Yang Mampu Menuangkan Kreatifitas Mahasiswa”. Di sini UKM Musik  ingin menunjukan bahwa di dalam UBS ini mereka mampu menuangkan kreatifitas mahasiswa. “Kami ingin menunjukan ke Rektorat dan UKM yang lain bahwa kami mampu menampung dan menuangkan kreatifitas mahasiswa dalam hal yang positif, contohnya ya musik itu sendiri,” ungkapnya.

Mahasiswa semester 3 FPAS ini juga menambahkan bahwa UKM musik tidak bekerja sendiri, mereka juga bekerjasama dengan prodi Seni Rupa dalam hal dekorasi panggung, prodi Planologi dan kantin Bu Dayu dalam hal penyediaan makanan dan minuman. “Kami sengaja melakukan kerjasama ini agar mampu mempererat tali persaudaraan dengan yang lain, toh tidak ada aturan yang melarang kerjasama ini, malah kerjasama ini menghasilkan hal yang positif dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak” tambahnya lagi.

Sementara itu Ida Bagus Adi Triata Dharma selaku ketua panitia acara UKM musik juga menambahkan bahwa UKM musik bukan semata-mata mencari keuntungan di kegiatan ini. “Kami tidak ingin bersaing untuk mencari keuntungan, alangkah baiknya kalau kita bisa bekerja sama dan saling melengkapi dalam memeriahkan acara UBS ini. Banyak keuntungan yang kita dapatkan dari kerja sama ini, keuntungan yang saya maksud bukan hanya dalam hal materi tapi disini kita mendapatkan pembelajaran bagaimana cara untuk menjalin kerja sama yang baik dengan organisasi lain dalam hal menggali potensi diri dan memeriahkan acara UBS ini” ungkapnya.

       Seperti inilah kegiatan UKM musik pada UBS tahun ini, walaupun mereka bergerak dibidang seni musik, mereka tidak hanya menyuguhkan musik tapi mereka mampu melihat peluang dan bekerjasama dengan element kampus yang lain demi memeriahkan acara UBS ini dan memuaskan para pengunjung yang datang ke stand UKM musik. Hal ini juga patut dicontoh oleh UKM dan organisasi kemahasiswaan yang lainnya.(iap)

Selasa, 08 Oktober 2013

Pahlawan Pengajeg Seni Rupa di UNHI

Pameran seni rupa merupakan salah satu upaya untuk melestarikan keberadaan seni dan kerajinan. Seniman mempunyai keahlian yang sangat penting di dalam pelestarian seni dan kerajinan tersebut. Maka dari itu berbanggalah kalian para seniman karena kalianlah ‘pahlawan pengajeg seni rupa’ yang sesungguhnya.

Ornamen panggung Utsawa Bali Sani
Utsawa Bali Sani (UBS) merupakan kegiatan semacam pesta kesenian Bali mini di kampus Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian odalan Pura Maha Widya Mandira UNHI, Dies Natalis, dan Wisuda kampus yang berlandaskan budaya dan agama Hindu ini.

Pagelaran UBS yang ke-4 tahun ini berlangsung selama kurang lebih setengah bulan dan diisi oleh berbagai perlombaan dan acara pertunjukan kesenian seperti lomba Bapang Barong, lomba Kendang Tunggal, lomba Geguntangan, Gong Suling Gita Semara, dan lain sebagainya. Selain itu, masing-masing fakultas maupun program studi (prodi) serta berbagai organisasi di kampus seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga meramaikan UBS dengan membuka pameran dan beraneka macam stand yang menarik. Bahkan ada juga stand yang dibuka oleh sponsor dari luar kampus pada UBS tahun ini.

Pameran Karya
Prodi Pendidikan Seni Rupa & Ornamen Keagamaan Hindu 
Salah satu stand pameran yang menampilkan hasil kerajinan dan kesenian yaitu dari stand Pameran Karya Prodi Pendidikan Seni Rupa & Ornamen Keagamaan Hindu di UNHI. I Gede Made Cipta Hary Anggara yang merupakan salah satu mahasiswa prodi seni rupa menjelaskan bahwa pada pagelaran UBS tahun ini mereka mengangkat tema “Unity of Diversity” yang berarti kesatuan dalam perbedaan. Makna dari tema tersebut adalah beraneka ragam seni rupa yang berbeda ditampilkan bersama menjadi satu kesatuan yang utuh. Merujuk kepada tema tersebut, tidak hanya kerajinan tangan seperti ukir-ukiran saja yang dipamerkan namun juga foto dan berbagai jenis lukisan baik itu lukisan dua dimensi maupun lukisan tiga dimensi.

“Untuk saat ini karya seni yang ditampilkan baru berasal dari seluruh mahasiswa prodi seni rupa dan beberapa dosen di UNHI. Namun kami tidak menutup kemungkinan untuk menerima sumbangan karya seni dari luar jika ingin karyanya dipamerkan di stand pameran kami,” ungkap mahasiswa semester 7 ini.


Lukisan Mural
Pada tahun awal kegiatan UBS prodi seni rupa hanya menyumbangkan keahliannya dalam membuat hiasan panggung UBS dengan ukir-ukiran yang rapi dan indah. Kemudian selanjutnya mereka mulai membuat pameran seni untuk diperlihatkan kepada pengunjung pada acara UBS. Namun sejak tahun lalu mahasiswa prodi seni rupa juga menampilkan lukisan mural yang kreatif dan menarik. Lukisan mural adalah teknik melukis di permukaan luas yang bersifat permanen dan dapat menggunakan media cat atau pewarna apapun bahkan kapur tulis untuk menghasilkan gambar. Untuk UBS tahun ini, mereka khusus membuat lukisan mural yang baru untuk dipamerkan.


Sketsa 1000 Wajah
Tahun ini prodi seni rupa membuat gebrakan baru dengan membuka stand ‘sketsa 1000 wajah’ tanpa dipungut biaya. “Ini adalah target kami untuk menggambar atau melukis wajah sebanyak 1000 lembar selama stand ini digelar yaitu dari tanggal 7-17 Oktober 2013. Kami sangat senang karena respon dari pengunjung cukup baik bahkan bisa dibilang antusias untuk dilukis wajahnya. Kami sempat kewalahan dalam melayani pengunjung yang tidak hanya berasal dari mahasiswa dan dosen UNHI saja namun juga dari masyarakat luar yang kebanyakan datang pada malam hari. Sebagian besar mengaku puas dengan hasil sketsa yang kami buat,” jelasnya.

“Bagi yang ingin dilukis wajahnya namun tidak sempat untuk datang ke stand kami, bisa dengan cara mengirimkan foto saja. Jadi nanti akan kami buatkan sketsa wajah berdasarkan foto tersebut,” tambah pria berumur 21 tahun ini.

Mereka berinisiatif untuk membuat pameran hasil kerajinan dan kesenian serta yang terbaru yaitu stand sketsa wajah ini agar prodi seni rupa dapat lebih dikenal oleh orang lain terutama masyarakat luar kampus. Ini juga membuktikan bahwa prodi seni rupa juga dapat menonjol dan berguna bagi banyak orang sehingga dapat lebih dihargai di kampus bernuansa Hindu ini dan tidak hanya dilirik jika sedang diperlukan saja. Mereka juga berharap semoga ke depannya ada mobilisasi yang lebih baik dan yang terpenting prodi seni rupa tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Pameran seni rupa yang ada pada kegiatan UBS di UNHI seperti ini adalah salah satu upaya untuk melestarikan kesenian dan budaya khususnya yang ada di Bali. Seniman-seniman baik itu pelukis, pengrajin ukiran, dan lain-lainnya mempunyai keahlian yang sangat penting di dalam pelestarian seni tersebut. Maka dari itu berbanggalah kalian para seniman karena kalianlah ‘pahlawan pengajeg seni rupa’ yang sesungguhnya. (yun)


Jumat, 04 Oktober 2013

Keluarga Wisudawan dan Wisudawati UNHI Keluhkan Tempat Wisuda



Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menggelar acara wisuda sarjana ke-44, magister ke-16 dan doktor ke-4 pada hari jumat, 4 oktober 2013. Wisuda ini merupakan suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas, di UNHI sendiri acara wisuda biasanya dilaksanakan dua kali setahun yakni pada bulan mei dan oktober. Acara yang dilaksanakan di aula kampus UNHI  ini dihadiri oleh pejabat Rektorat, Dekanat, Dosen, hadir pula undangan dari Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Rektor Universitas se-Bali, Ketua Kopertis VIII dan tentunya wisudawan dan wisudawati beserta keluarga dan kerabatnya.

Ada hal yang berbeda pada wisuda tahun ini, jika pada tahun-tahun sebelumnya pelaksanaan wisuda dikampus dilaksanakan di atas panggung buatan di lapangan kampus, wisuda tahun ini dilaksanakan di “aula setengah jadi”. Dikatakan setengah jadi karena aula yang digunakan memang belum sepenuhnya selesai alias masih dalam proses pengerjaan. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah aula belum dipasangi atap, selain itu juga belum dilengkapi fasilitas didalamnya seperti kursi dan sound.

Menanggulangi hal tersebut pihak panitia wisuda melakukan dekorasi dengan menyewa tenda, kursi dan sound. Panitia juga bekerjasama dengan mahasiswa seni rupa untuk interiornya dan penambahan fasilitas kipas angin untuk memberikan rasa nyaman kepada para undangan, wisudawan, wisudawati beserta keluarga.

Namun hal itu semua nampaknya belum maksimal, hal ini dibuktikan dengan rasa kecewa dari beberapa keluarga wisudawan dan wisudawati. Made Putra, orang tua dari salah satu wisudawan asal Karangasem  mengatakan kecewa dengan tempat pelaksanaan wisuda karena tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. “Saya kecewa dengan tempatnya, bayarnya mahal tapi tempatnya begini. Harusnya kan disesuaikan, kalau bayarnya segitu dimana, kalau tempatnya begini biaya bisa diturunkanlah sedikit” ungkapnya.

Sementara itu hal berbeda disampaikan orang tua wisudawati lainnya, I Putu Adnyana.
Pria asal Tabanan ini mengaku kecewa dengan tempat pelaksanaan wisuda putrinya karena kondisi gedung panas dan kurangnya tempat duduk. “Tempat wisudanya panas, ada kipas angin tapi lama sekali hidupnya. Kursinya juga kurang, kan kasihan banyak orang tua yang harus berdiri” ujarnya. Ia berharap kedepannya pihak kampus lebih memperhatikan fasilitas tempat wisuda sehingga bisa memberikan rasa nyaman kepada undangan juga keluarga wisudwan dan wisudawati.

Keluhan-keluhan dari orang tua merupakan ungkapan kekecewaan yang masuk akal, mereka datang jauh-jauh bahkan ada yang dari luar Bali untuk melihat putra-putri mereka diwisuda. Mereka membayar wisuda dengan biaya jutaan namun dilaksanakan di “aula setengah jadi”.

 Hal ini harus menjadi perhatian serius dan tanggungjawab semua pihak, bukan hanya dari rektorat atau dekanat tetapi UNHI secara menyeluruh. Jika tidak bisa saja akan mencoreng citra UNHI di masyarakat. Semoga wisuda tahun-tahun berikutnya hal yang sama tidak terulang lagi. Ini harus menjadi bahan evaluasi kedepannya demi terciptanya pembangunan dan perkembangan UNHI ke arah yang lebih baik. (SW)  

Kamis, 26 September 2013

Menanti “Gebrakan” Dewan Perwakilan Mahasiswa




DPM bertugas melakukan pengawasan terhadap seluruh organisasi kemahasiswaan yang ada di lingkungan kampus UNHI. DPM berhak memberikan sanksi apabila organisasi kemahasiswaan dalam pelaksanaannya melakukan pelanggaran-pelanggaran yang menyimpang dari AD/ART organisasi kemahasiswaan.
 
Organisasi kemahasiswaan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) mungkin masih sedikit asing di telinga mahasiswa UNHI, hal ini wajar saja karena DPM adalah organisasi kemahasiswaan yang baru terbentuk sesuai keputusan musyawarah mahasiswa (MUSMA) yang dilaksanakan bulan juli lalu. Lahirnya DPM di UNHI dilatarbelakangi oleh keinginan mahasiswa agar organisasi mahasiswa yang ada menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan AD/ART, selain itu untuk mengantisipasi agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran apalagi penyalahgunaan wewenang. Untuk itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi mahasiswa (DPM) yang bertugas untuk mengawasi organisasi mahasiswa (BEM, Senat Mahasiswa, HMJ dan UKM).

Pande Astaman, sebagai ketua DPM terpilih menjelaskan bahwa DPM kini telah mempersiapkan beberapa program kerja baik itu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. “Untuk program kerja di DPM kami membaginya menjadi 3 yaitu jangka pendek , jangka menengah dan jangka panjang. Untuk yang jangka pendek kami di DPM lebih menekankan pada kesadaran mahasiswa untuk nantinya tanggap terhadap lingkungan kampus, salah satunya mengadakan rapat bersama BEM dan mengadakan jumpa rektor tentang keadaan kampus dan tranparansi kampus. Untuk jangka menengah, program kerja yang lebih ditekankan adalah pelatihan advokasi untuk mahasiswa dan organisasi dikampus agar lebih tanggap dengan permasalahan kampus. Dan yang terakhir jangka panjang yaitu membuat gebrakan aspirasi mahasiswa dimana nantinya aspirasi ini dapat menjadi tonggak kebangkitan mahasiswa dan organisasi UNHI” ungkapnya.

Mahasiswa semester 7 Fakultas Teknik program studi Perencanaan Wilayah Kota (Planologi) ini menambahkan bahwa sebagai organisasi kemahasiswaan baru, DPM memiliki peran dan fungsi yang sangat vital. Untuk itu diharapkan kedepannya mahasiswa bisa bekerjasama dan mendukung kinerja DPM. Mahasiswa harus melakukan pengawasan terhadap semua organisasi kemahasiswaan termasuk juga DPM sendiri. Saran dan kritik yang membangun sangat diperlukan untuk membangun organisasi kemahasiswaan UNHI kedepan. 

“Semoga dengan terbentuknya DPM stabilitas serta pengawasan dikampus UNHI lebih baik, selain itu juga disini perlu adanya controling terhadap organisasi di UNHI dimana nanti nya organisasi di UNHI dapat berjalan dengan lancar. Walaupun kami disini sebagai organisasi yang bertugas mengawasi, kami juga perlu kritikan yang nantinya dapat membangun DPM untuk lebih baik dan untuk kemajuan UNHI juga” tambahnya. (gun)


Selasa, 24 September 2013

ORKEMAS Pertanyakan Tender Seminar IKAMAHI


Dalam kamus hukum, tender adalah memborong pekerjaan / menyuruh pihak lain mengerjakan atau memborong pekerjaan seluruhnya atau sebagian pekerjaan, sesuai dengan perjanjian yang dibuat oleh kedua belah pihak sebelum pekerjaan pemborongan itu dilakukan.

            Ikatan Alumni UNHI (IKAMAHI) melaksanakan undangan tender pada Senin, 23 September 2013 di gedung B kampus UNHI Denpasar. Undangan tender tersebut terkait dengan pelaksanaan program kerja bidang organisasi IKAMAHI yakni acara seminar nasional dengan tema “Pendidikan Politik”. Pada kesempatan tersebut hadir beberapa perwakilan Organisasi Kemahasiswaan (ORKEMAS) yang ada di UNHI antara lain Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi (SMFE), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kedis, UKM Musik dan UKM Pers Mahasiswa. Acara diawali dengan penjelasan dasar dan tujuan pelaksanaan tender dan seminar oleh IKAMAHI kemudian dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab oleh peserta.

Banyak pihak yang mempertanyakan soal tender dan seminar yang akan dilaksanakan IKAMAHI ini. Salah satu hal yang dipertanyakan adalah tema seminar, penggunaan sistem tender, mekanisme tender, teknis seminar, narasumber dan lain-lain.

Salah satunya Ida Bagus Putu Heri Darmawan, perwakilan DPM ini menyatakan tidak setuju dalam hal penenderan, tema dan dari acara tersebut, alasannya karena mekanisme kerja dalam penenderan tersebut, apalagi tema dari acara tersebut adalah pendidikan politik, yang ditakutkan adalah ada kepentingan didalamnya terlebih lagi tahun 2014 mendatang akan ada  pemilu legislatif. Hal itulah yang mendasari ketidak beberapa pihak organisasi kemahasiswaan tidak setuju dengan adanya penenderan dan acara ini.

“Dalam mekanisme tender biasanya semua elemen yang ada diikutsertakan dalam tender tersebut. Sedangkan dalam rapat undangan tender tersebut, undangan hanya diberikan kepada UKM KEDIS dan UKM Pers Mahasiswa di luar seluruh organisasi baik itu BEM, Senat Fakultas di lingkungan UNHI, sehingga ada kecurigaan ketika tender itu tidak bisa di ikuti seluruh organisasi kampus dan pemenang tender sudah dapat dipastikan,” ungkapnya.

“Selain Mekanisme tender, seminar yang di angkat yaitu Pendidikan Politik dimana pembicaranya adalah tokoh politik praktis membuat kecurigaan semakin besar, ketika tokoh tersebut mempunyai kepentingan lain di pemilu legislatif tahun 2014. Dari hasil rapat tersebut saya mengusulkan mengganti Bapak Gede Pasek dengan Prof. Gunada, yang kapabilitasnya sebagai mantan anggota DPR RI, dan pada saat ini beliau sebagai ketua Yayasan Widya Kerti. Dalam Rapat tersebut juga banyak yang mendukung Prof Gunada sebagai pembicara, antara lain UKM Kedis dan UKM Pers, yang setuju mengganti Pembicara I yaitu Bapak Gede Pasek. Ketika IKAMAHI tetap akan mengundang Bapak Gede Pasek sebagai pembicara, disana akan ada kejanggalan adanya kepentingan politik yang masuk dalam seminar tersebut apalagi forum sudah setuju mengganti, tetapi tetap mengunakan pembicara tersebut,” tambahnya lagi.

            Hal senada diungkapkan oleh mantan ketua BEM UNHI Ida Bagus Alit Brahmarta Kusuma. Ia mengungkapkan bahwa seharusnya IKAMAHI sendiri yang melaksanakan acara ini tanpa harus ditenderkan. “Kenapa harus di tenderkan? Atau ini hanya untuk pencintraan IKAMAHI saja? Kalau IKAMAHI bekerjasama dengan organisasi kampus dalam melaksanakan kegiatan ini saya setuju asalkan sistem kerjanya sesuai dengan struktur garis koordinasi. Yang saya takutkan tender ini akan mendidik organisasi mahasiswa yang melakukan  suatu kegiatan hanya untuk mendapatkan profit, dan dalam hal tender ini organisasi mahasiswa (pemenang tender) hanya akan jadi kaki tangan penyelenggara acara,” ungkapnya.


“Jika IKAMAHI ingin berkerjasama dengan ORKEMAS yang ada di UNHI, seharusnya sesuai dengan struktur garis koordinasi, mereka menyerahkan kegiatan ini ke organisasi tertinggi di kampus yaitu BEM, dan BEM tidak boleh serta merta mengambil keputusan, BEM harus melaksanakan rapat bersama semua ORKEMAS yang ada di UNHI. Disanalah nanti ditentukan ORKEMAS mana yang mau melaksanakan acara ini, jika memang lebih dari satu ORKEMAS yang mengajukan diri, barulah disana diadakan kompetisi secara sehat antara ORKEMAS yang mencalonkan diri. Temanya bukan tidak baik tapi dalam hal pembicaranya, kalau memang acara ini murni hanya untuk memberikan pengertian politik secara garis besar, pembicaranya harusnya bukan dari suatu lembaga politik karena siapa yang berani menjamin kalau narasumber tersebut tidak akan membawa politik praktis ke dalam kampus, apalagi tahun 2014 mendatang akan dilaksanakan pemilu,” ia menambahkan.

Pada kesempatan tersebut I Ketut Sae Tanju,SE selaku ketua IKAMAHI menyatakan bahwa tujuan IKAMAHI melaksanakan acara seminar ini adalah memberikan pemahaman pendidikan politik kepada mahasiswa. “Kami ingin memberikan pemahaman tentang pendidikan politik kepada mahasiswa. Acara ini dengan murni hanya akan memberikan pendidikan secara garis besar tentang politik, dimana dalam hal ini kami merasa pendidikan politik itu juga diperlukan oleh mahasiswa. Walaupun seminar ini bertemakan pendidikan politik, kami tidak akan memasukkan hal-hal yang berbau politik praktis ke acara seminar ini,” ungkapnya.

Sementara itu alasan penggunaan cara tender bertujuan agar IKAMAHI dapat menjalin hubungan kerjasama dengan mahasiswa UNHI, maka dari itu pada acara seminar ini melibatkan organisasi kemahasiswaan yang ada di lingkungan UNHI Denpasar. “Pemenang tender akan menjadi partner kerja kami dalam  melaksanakan acara ini dan tidak semata mata menjadi kaki tangan. Kami juga tidak akan mencari keuntungan dalam acara ini, acara ini kami laksanakan atas dasar keinginan kami untuk berpartisipasi dalam hal pendidikan lingkungan kampus, terlebih lagi UNHI yang sudah menjadi tempat kami menimba ilmu dulu di saat kami masih di bangku kuliah,” Tanju menambahkan.


Di akhir acara, pihak IKAMAHI berjanji akan mengkoordinasikan dan mempertimbangkan saran, kritik serta masukan dari perwakilan organisasi. Rencananya dalam waktu dekat IKAMAHI akan melakukan pertemuan kembali dengan organisasi mahasiswa untuk melakukan pembahasan dan solusi dari permasalahan ini. (iap)  

Selasa, 03 September 2013

Ironi BEM : Badan Eksekutif Mahasiswa atau Badan Event Manajemen





“Apalah artinya BEM jika tidak berguna dan memberikan manfaat bagi mahasiswa.
BEM jangan hanya menjadi organisasi formalitas sebagai sebuah kelengkapan
struktur organisasi di sebuah universitas”

Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Begitu juga halnya  organisasi mahasiswa, pada dasarnya organisasi mahasiswa adalah sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa demi mencapai tujuan bersama, namun harus tetap sesuai dengan koridor anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART) yang disetujui oleh semua anggota dan pengurus organisasi tersebut. Organisasi Mahasiswa tidak boleh keluar dari rambu-rambu utama tugas dan fungsi perguruan tinggi yaitu tri dharma perguruan tinggi, tanpa kehilangan daya kritis dan tetap berjuang atas nama mahasiswa, bukan pribadi atau golongan. organisasi mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup vital yakni sebagai wadah aspirasi mahasiswa, melaksanakan kegiatan mahasiswa, pengembangan minat dan bakat mahasiswa serta bertugas untuk mengawasi dan mengkritisi kebijakan kampus yang menyangkut mahasiswa.

Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi antar kampus, organisasi ekstra kampus maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus. Di UNHI sendiri terdapat beberpa organisasi kemahasiswaan intra kampus antara lain Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa Fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).  Salah satu organisasi mahasiswa intra kampus yang menjadi sorotan adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Sebagai organisasi mahasiswa tertinggi yang ada di kampus UNHI, BEM sudah seharusnya menjadi wadah aspirasi sekaligus corong untuk menyuarakan saran dan kritik mahasiswa kepada pihak-pihak terkait, baik itu dekanat atau rektorat. Dalam hal ini BEM sudah seharusnya menyampaikan aspirasi mahasiswa yang menyangkut segala hal tentang mahasiswa dan kampus. Begitu juga dalam hal saran dan kritik, BEM seharusnya menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak mahasiswa seperti misalnya transparansi dana kemahasiswaan, transparansi penerimaan beasiswa, dan lain-lain. Selain itu juga BEM harus memperhatikan sarana prasarana pendidikan yang ada di kampus seperti fasilitas ruang kelas, toilet dan lain-lain yang merupakan penunjang untuk memberikan rasa nyaman kepada mahasiswa.

Realita yang terjadi

Sekarang ini BEM sebagai sebuah organisasi bisa dibilang kurang optimal dalam menjalankan peran dan fungsinya. Hal ini bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan hanya bersifat seremonial seperti seminar atau workshop dan penanaman pohon. Kegiatan-kegiatan seperti seminar atau workshop jika tidak dibarengi implementasi dari materi yang disampaikan itu berarti sama dengan nol besar. Begitu juga halnya dengan penanaman pohon, jika hanya melakukan penanaman tanpa dilakukan pengawasan atau pengelolaan tentu kita tidak tahu bagaimana nasib pohon-pohon yang kita tanam. 

Melihat kondisi tersebut, wajar saja jika kepanjangan BEM yakni Badan Eksekutif Mahasiswa diplesetkan menjadi “Badan Event Manajemen” oleh beberapa mahasiswa. Mereka cukup beralasan, karena pola kerja BEM tidak ubahnya seperti event organizer (EO) yakni usaha dalam bidang jasa yang secara sah ditunjuk oleh clientnya, guna mengorganisasikan seluruh rangkaian acara, mulai dari perencanaan, persiapan, eksekusi hingga evaluasi, dalam rangka membantu mewujudkan tujuan yang diharapkan client dengan membuat acara. Hanya saja BEM disini tidak ditunjuk atau mempunyai client melainkan atas dasar dan kesepakatan anggota bersama.

Hal lain yang semakin membuat BEM semakin terpuruk adalah prilaku beberapa oknum anggotanya. Beberapa oknum anggota bergabung dengan organisasi BEM bukan ingin mencari pengalaman atau mengembangkan diri melainkan hanya ingin mencari popularitas atau ketenaran belaka, terlebih lagi saat penerimaan mahasiswa baru seperti OSPEK. Hal ini akan semakin menurunkan minat mahasiswa untuk bergabung dengan BEM. Mahasiswa yang tergabung di BEM itu adalah mahasiswa terpilih yang sudah barang tentu melalui proses seleksi hingga akhirnya resmi menjadi anggota. Banyak factor yang melatarbelakangi keinginan mahasiswa ingin menjadi BEM, apapun alasannya itu sah-sah saja dan merupakan hak dari mahasiswa itu sendiri. Tapi akan lebih baik jika bergabung dengan organisasi dengan tujuan yang jelas bukan hanya ajang kumpul-kumpul dan bersenang-senang. Lebih dari itu kita harus memahami visi misi organisasi dan melakukan kegiatan sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan dan tentunya tidak bertentangan dengan AD/ART organisasi 

Mengembalikan peran dan fungsi BEM

Kedepan BEM sudah seharusnya melakukan pembenahan-pembenahan, baik itu dari sumber daya manusia (SDM) dan juga aktivitas organisasinya. Dari segi SDM, BEM harus melakukan kaderisasi yang sungguh-sungguh dalam artian melakukan proses seleksi dan penilaian yang objektif terhadap calon-calon anggota BEM, bukan berdasarkan kedekatan emosional belaka. Calon-calon anggota BEM harus dibekali pengetahuan tentang keorganisasian secara mendalam sehingga mereka benar-benar paham dan mengerti tentang apa itu organisasi, peran dan fungsi organisasi dan lain sebagainya. Harapannya adalah ketika mereka selesai mengabdikan diri di BEM ada suatu nilai dan manfaat yang mereka dapatkan. Ketika sudah memutuskan untuk berorganisasi, itu merupakan pilihan yang tepat. Tinggal sekarang bagaimana kita mengembangkan diri dan membangun organisasi ini ke arah yang lebih baik kedepannya.

Sementara itu dari segi aktivitas organisasi atau kegiatan-kegiatan, BEM bisa lebih fokus kepada implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Aspek yang pertama yakni pendidikan, BEM bisa melakukan kegiatan pengembangan potensi diri mahasiswa atau pelatihan-pelatihan seperti pelatihan kewirausahaan atau pelatihan menulis yang dibarengi dengan praktek dan pengawasan, tentunya akan bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh mahasiswa. Kedua yakni penelitian, jumlah penelitian mahasiswa UNHI yang mengikuti program kreativitas mahasiswa (PKM) sekarang masih sangat minim bahkan bisa dihitung dengan jari. Menyikapi hal ini BEM bisa mengundang atau bekerjasama dengan DIKTI melakukan sosialisasi kepada mahasiswa agar semakin banyak yang tahu dan bisa mengikuti PKM kedepannya. Harapannya adalah semakin banyak mahasiswa UNHi yang mengikuti PKM dan secara tidak langsung bisa lebih dini belajar menulis karya ilmiah yang bisa digunakan referensi dalam mengerjakan tugas akhir skripsi nantinya.

Ketiga pengabdian masyarakat, BEM sudah banyak melakukan kegiatan pengabdian masyarakat seperti penanaman pohon, bakti sosial, dan lain-lain. Tapi itu saja belum cukup, harus ada kegiatan pengabdian masyarakat yang lebih lagi dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya yang hanya bersifat seremonial saja. BEM mungkin bisa membuat desa binaan atau dalam ruang lingkup yang lebih kecil sekolah binaan (nonformal) di desa atau wilayah terpencil yang jauh dari ibukota. Disana BEM bisa bekerjasama dengan mahasiswa yang mau menjadi relawan untuk mengajarkan anak-anak, sehingga kegiatan kita benar-benar bisa dirasakan manfaatnya di tengah-tengah masyarakat.

Beberapa kegiatan di atas hanya sebagian kecil dan masih banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan BEM, yang terpenting adalah niat dan komitmen untuk berorganisasi . Apalah artinya BEM jika tidak berguna dan memberikan manfaat bagi mahasiswa. BEM jangan hanya menjadi organisasi formalitas sebagai sebuah kelengkapan struktur organisasi di sebuah universitas. Sekarang saatnya BEM menunjukkan jati diri bahwa BEM adalah Badan Eksekutif Mahasiswa bukan Badan Event Manajemen. (Gun)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting