Jumat, 06 Desember 2013


TRANSPARANSI BUDAYA


            Seiring perkembangan arus globalisasi dan tidak ada pemisah yang nyata antara budaya bangsa yang satu dengan yang lainnya semakin membuat budaya lokal kita menjadi “pincang”. Bagaimana tidak, dulu beda antara budaya timur dan barat terpampang nyata. Namun kini dinding pembatas itu semakin rapuh bahkan jebol membuat mereka saling tarik menarik. Yang kalah hanyalah menjadi pengikut trend budaya pemenang arus global. Itulah yang juga terjadi terhadap budaya lokal Indonesia, termasuk budaya bali. Kini hanyalah percikan pemikiran kecil dari para penggerak yang mampu membangkitkan semangat rasa peduli untuk tetap mempertahankan budaya lokal seperti yang dilakukan oleh Nyoman Gunarsa.
Upaya yang dilakukan Maestro Seni Nyoman Gunarsa yang menggagas dan melaksanakan Festival Internasional Bahasa Bali atau International Festival of Balinese Language (IFBL) di Museum Gunarsa Semarapura, Kabupaten Klungkung diselenggarakan dari tanggal 08 - 30 November 2013 dikemas dalam bentuk parade seni dengan melibatkan ratusan seniman lokal dan mancanegara.
Upaya melestarikan bahasa daerah dan sastra sangatlah penting, mengingat pada masa kini batas pemisah antara Negara dan manusia semakin kabur dan selanjutnya terjadilah proses interaksi, adaptasi, adopsi bahkan kolabrasi berbagai unsure budaya. Hal itu diperparah lagi dalam kondisi komunikasi keseharian baik di rumah maupun luar rumah semakin enggan menggunakan bahasa Bali. Bahkan  ada ungkapan generasi muda bahwa berbahasa Bali adalah hal kuno. Dalam suatu dilematis tersebut, upaya pemberdayaan bahasa dan sastra Bali dilihat sebagai sebuah kegiatan strategis, agar budaya local dapat mengaktualisasikan diri dalam konteks global, dan dipihak lain menghindarkan berbagai pengaruh homogenisasi budaya.
Kegiatan yang berlangsung hampir sebulan itu juga melibatkan peserta dari Sembilan Negara yang meliputi Australia, Belanda, Italia, Switzerland, Perancis, Amerika Serikat, Jepang dan India serta Indonesia yang sekaligus menjadi tuan rumah. Kegiatan tersebut diawali dengan pawai sastra budaya, pembacaan puisi/prosa berbahasa daerah Bali, bercerita menggunakan Bahasa Daerah Bali, menyanyi lagu berbahasa Bali, pementasan drama berbahasa Bali serta pameran buku langka Bali dan prasilontas.
Gunarsa berharap peserta dari mancanegara mampu memperkaya khasanah Bahasa Bali sehingga tidak tercabut dari akarnya, sekaligus memberikan masukan dalam memuliakan, mengembangkan dan melestarikan bahasa Bali. Selain itu mampu menyebarluaskan kepada dunia internasional tentang hakekat bahasa Bali dan sastra di dalam dunia pendidikan untuk membentuk karakter bangsa, sekaligus memperkaya khasanah budaya dunia.
Gunarsa menambahkan, pihaknya menggelar kegiatan IFBL mengingat pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak lagi mencantumkan Bahasa Daerah Bali dalam kurikulum mata pelajaran pokok khususnya di Bali sebagai bahasa ibu. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyukseskan kegiatan bertaraf internasional itu, termasuk pembentukan panitia dan panitia pengarah dengan pelindung Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Budaya luar boleh saja membaur dengan budaya lokal, namun jangan sampai mendepak budaya dan kearifan lokal. Karena jika itu sampai terjadi sama saja kita telah kehilangan jati diri.


 Salam PERSMA
(Devi & Virgo)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting